Jika Ditakdirkan Meninggal di Perantauan

Jika Ditakdirkan Meninggal di Perantauan

Sosok kedua orang tua, saudara, dan orang-orang yang ia kasihi terbayang di kepalanya.

Sosok teman-teman waktu kecil seakan-akan tampak dalam pandangannya.

Bayang-bayang kampung halaman yang penuh kenangan membelit dadanya.

Selain menahan rasa rindu, ia juga harus melawan rasa asing menemui orang yang baru, tempat yang baru, dan suasana yang serba baru.

Mungkin itulah perasaan orang yang merantau meninggalkan kampung halamannya.

Jika ia telah merasakan demikian, lalu ternyata Allah menakdirkan ia meninggal di perantauan, apakah ada keutamaan dalam hal demikian?

Ada seseorang meninggal dunia di Madinah dan ia adalah orang yang terlahir di kota tersebut.

Nabi ﷺ menyalatkan jenazahnya, lalu bersabda:

يَا لَيْتَهُ مَاتَ بِغَيْرِ مَوْلِدِهِ

“Aduhai, seandainya ia meninggal dunia di selain tempat kelahirannya!”

Para sahabat bertanya:

وَلِمَ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

“Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا مَاتَ بِغَيْرِ مَوْلِدِهِ قِيسَ لَهُ مِنْ مَوْلِدِهِ إِلَى مُنْقَطَعِ أَثَرِهِ فِي الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya jika seseorang meninggal dunia di selain tempat kelahirannya, maka akan diukur untuknya di surga dari tempat kelahirannya sampai ke tempat wafatnya.” (HR. Nasai)

Al-Allamah As-Sindi berkata:

وَظَاهره أَنه يعْطى لَهُ فِي الْجنَّة هَذَا الْقدر لأجل مَوته غَرِيبا

“Yang tampak bahwa ia di surga mendapat tempat seukuran demikian karena kematiannya dalam keadaan asing.” (Hasyiyah As-Sindi Alaa Sunan An-Nasai)

Ya, karena kematiannya dalam keadaan asing. Jauh dari keluarga dan karib kerabat yang ia kasihi. Jauh dari kampung halaman yang ia cintai.

 

Siberut, 19 Muharram 1444

Abu Yahya Adiya