Allah berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami, ia sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)
Siapa yang dimaksud dengan kalian dalam ayat ini?
Ada 2 pendapat di kalangan para ulama ahli tafsir:
- Bangsa Arab.
Para ulama yang berpendapat demikian menjelaskan bahwa Allah menyebutkan itu untuk mengingatkan bangsa Arab tentang nikmat-Nya kepada mereka berupa diutusnya seorang rasul dari kalangan mereka. Sebab, Rasul berbicara dengan bahasa mereka dan keberadaan beliau juga merupakan kehormatan bagi mereka.
Imam Al-Qurthubi berkata:
فَكَأَنَّهُ قَالَ:
“Seakan-akan Dia berfirman:
يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ
“Wahai bangsa Arab, telah datang kepada kalian seorang rasul dari keturunan Isma’il.” (Al-Jami’ Lii Ahkam Al-Quran)
Dan bangsa Arab adalah keturunan Nabi Isma’il.
- Umat manusia.
Artinya:
ليس من الجن ولا الملائكة، بل هو من جنسكم; كما قال تعالى:
“Muhammad bukan dari kalangan jin dan bukan pula malaikat. Bahkan, ia dari jenis kalian. Sebagaimana firman-Nya:
هو الذي خلقكم من نفس واحدة
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu jiwa.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Imam Al-Qurthubi berkata:
وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَوْكَدُ لِلْحُجَّةِ أَيْ هُوَ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ لِتَفْهَمُوا عَنْهُ وَتَأْتَمُّوا بِهِ.
“Pendapat kedua lebih kuat dalam menegakkan hujah. Yaitu ia manusia seperti kalian, agar kalian bisa memahami dan mengikutinya.” (Al-Jami’ Lii Ahkam Al-Quran)
Apa makna terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والمعنى: أنه يصعب عليه ما يشق عليكم، ولهذا بعث بالحنيفية السمحة، وما خير بين شيئين إلا اختار أيسرهما ما لم يكن إثما
“Maknanya yaitu terasa susah baginya apa yang menyusahkan kalian. Karena itu, beliau diutus dengan ajaran haniifiyyah samhah (lurus dan mudah). Dan tidaklah beliau diberi pilihan antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama itu bukan dosa.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Apa maksud ia sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian?
Imam Qatadah menjelaskan maknanya:
حريص على ضالهم أن يهديه الله.
“yaitu sangat menginginkan agar Allah memberi hidayah kepada orang yang sesat di antara mereka.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah karunia Allah kepada bangsa Arab secara khusus, dan umat manusia secara umum. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri.”
- Ciri khas sunnah nabi adalah mudah dan tidak memberatkan. Sebagaimana firman-Nya: “terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami.”
Dan sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Aku diutus dengan ajaran haniifiyyah samhah (lurus dan mudah).” (HR. Ahmad)
- Nabi ﷺ adalah sosok yang sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya. Sebagaimana firman-Nya: “ia sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian.”
Karena itulah, beliau ﷺ menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang akan menguntungkan mereka dan memperingatkan mereka dari segala keburukan yang akan membahayakan mereka.
Salman al-Farisi ditanya oleh orang-orang musyrik:
قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ؟
“Apakah nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu, sampai pun permasalahan buang hajat?”
Salman menjawab:
أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ
“Tentu. Sungguh nabi kami telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar dan buang air kecil. Beliau juga melarang kami istinja dengan tangan kanan, melarang istinja menggunakan batu kurang dari tiga buah, dan melarang kami istinja menggunakan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim)
Lihatlah, kalau urusan buang hajat saja diajarkan, apalagi permasalahan yang sangat dan paling dibutuhkan umat, yaitu tauhid!
Makanya, Nabi ﷺ telah mengajarkan tauhid kepada umatnya. Beliau juga telah memperingatkan mereka dari lawannya, yaitu syirik, serta menutup segala celah yang akan mengantarkan mereka kepada syirik.
- Nabi ﷺ adalah sosok yang penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman-Nya: “penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
Kalau kepada orang-orang yang beriman, penyantun dan penyayang, berarti kepada orang-orang yang tidak beriman…
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
قوله: {بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ} ،أي: إن النبي صلى الله عليه وسلم في غير المؤمنين ليس رءوفا ولا رحيما، بل هو شديد عليهم كما وصفه الله هو وأصحابه بذلك في قوله صلى الله عليه وسلم:
“Firman-Nya: penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman, yakni Nabi ﷺ terhadap orang-orang yang tidak beriman tidak penyantun dan tidak penyayang. Bahkan, beliau bersikap keras terhadap mereka. Sebagaimana Allah sebutkan sifat itu pada diri beliau dan para sahabatnya dalam firman-Nya:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Siberut, 9 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Al-Jami‘ Lii Ahkam Al-Quran karya Imam Al-Qurthubi.
- Jami‘ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari.






