Fikih Puasa 19

Fikih Puasa 19

Nabi ﷺ bersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ، فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ، فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالَا لِي:

“Ketika aku tidur, datanglah dua orang kemudian memegang kedua lenganku dan membawaku ke bukit yang sulit didaki. Keduanya berkata kepadaku:

اصْعَدْ

“Naiklah, ”

حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ، فَإِذَا أَنَا بِصَوْتٍ شَدِيدٍ، فَقُلْتُ:

Hingga ketika aku sampai ke puncak bukit, aku mendengar suara yang sangat keras. Aku pun bertanya:

مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟

“Suara apakah ini ?”

قَالَ:

Dijawab:

هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ

“Ini adalah teriakan penghuni neraka.”

ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، فَقُلْتُ:

Kemudian aku dibawa pergi hingga aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki diatas, mulut mereka robek, dan mengalirlah darah dari mulut mereka. Aku bertanya:

مَنْ هَؤُلَاءِ؟

“Siapakah mereka?”

فَقِيلَ:

Maka dijawab:

هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ،

“Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya.” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih keduanya)

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

1. Salah satu sebab mendapat siksa kubur adalah berbuka puasa sebelum waktunya.

2. Siksa kubur itu berlaku pada roh dan jasad seseorang.

3. Meninggalkan puasa Ramadhan karena malas adalah dosa besar.

Syekh Al-Albani berkata:

هذه عقوبة من صام ثم أفطر عمداً قبل حلول وقت الإفطار، فكيف يكون حال من لا يصوم أصلاً؟! نسأل الله السلامة والعافية في الدنيا والآخرة”،

“Itu adalah hukuman bagi orang yang berpuasa lalu sengaja berbuka sebelum waktunya, maka bagaimana pula dengan orang yang tidak berpuasa sama sekali?! Kita memohon kepada Allah keselamatan dan afiat di dunia dan akhirat.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

مَنْ أَفْطَرَ عَامِدًا بِغَيْرِ عُذْرٍ كَانَ فِطْرُهُ مِنْ الْكَبَائِرِ

“Siapa yang buka dengan sengaja tanpa uzur, maka berbukanya itu termasuk dosa besar.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Imam Adz-Dzahabi berkata:

وعند المؤمنين مقرر: من ترك صوم رمضان بلا عذر بلا مرض، ولا غرض فإنه شر من الزاني والمكَّاس ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة والانحلال.

“Orang-orang beriman mempunyai ketetapan bahwa siapa yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan tanpa uzur dan sakit, dan tanpa tujuan, maka sungguh, ia lebih buruk dari pezina, penodong, dan peminum minuman keras. Bahkan, diragukan keislamannya. Dan diperkirakan ada kemunafikan dan penyimpangan pada dirinya.” (Al-Kabair)

4. Meninggalkan puasa Ramadhan karena tidak meyakini itu sebagai kewajiban adalah dosa yang sangat besar, bahkan itu adalah kekafiran. Mengeluarkan dari Islam.
Sayyid Al-‘Afani berkata:

هذا فعل الله بمن تهاونوا في أداء الفرائض، فكيف بمن حرّفوها. وأوّلوا معانيها تأويلاً ما أنزل الله به من سلطان.
كيف بمن قالوا بإسقاط التكاليف من الصوفية ودجاجلة الشيعة، والاتحادية وأصحاب وحدة الوجود ودجالهم ابن عربي

“Itu perlakuan Allah terhadap orang-orang menganggap remeh pelaksanaan kewajiban, maka bagaimana pula dengan yang menyelewengkannya, dan membelokkan maknanya dengan takwil yang tidak pernah diturunkan oleh Allah?! Bagaimana pula dengan orang-orang yang berpendapat gugurnya beban syariat dari kalangan Sufi, pendusta Syiah, Ittihadiyyah, para penganut Wihdatul Wujud, dan pendusta dari kalangan mereka yaitu Ibnu ‘Arabi?” (Nida Ar-Rayyan fii Fiqh Ash-Shaum wa Fadhl Ramadhan)

Siberut, 13 Ramadhan 1441
Abu Yahya Adiya

Sumber:
1. Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi
2. Majmu’ Al-Fatawa karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah
3. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawaidiha karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani
4. Nida Ar-Rayyan fii Fiqh Ash-Shaum wa Fadhl Ramadhan karya Sayyid Al-‘Afani