Kelebihan Yahudi Dibandingkan Jahmiyyah

Kelebihan Yahudi Dibandingkan Jahmiyyah

Nabi Musa ﷺ terkejut. Ketika beliau ﷺ pergi ke bukit Thursina untuk menerima Taurat dari Allah, beliau mendapat kabar yang mengejutkan.

Allah mengabarkan kepada beliau:

فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ

“Sesungguhnya Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (QS. Thahaa: 85)

Samiri telah menyesatkan Bani Israel. Samiri telah menjerumuskan mereka ke dalam penyimpangan.

Allah berfirman:

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ

“Kemudian Samiri mengeluarkan (patung) anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi ia telah lupa.” (QS. Thaahaa: 88)

Karena ulah Samiri, Bani Israel beribadah kepada patung anak sapi. Mereka jadi terjatuh dalam kekafiran dan kemusyrikan! Padahal….

Allah berfirman:

أَفَلا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا

“Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa patung anak sapi itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka?” (QS. Thahaa: 89)

Ya, patung anak sapi itu tidak pantas menjadi Tuhan. Sebab, ia tidak bisa berbicara dan memberikan manfaat dan juga mudarat. Berbeda dengan Tuhan yang sesungguhnya. Karena itu….

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

وهذه الآية استدل بها العلماء على إثبات كلام الله عز وجل، وأن صفة الكلام صفة كمال، وأن عدم الكلام نقص يستدل به على عدم ألوهية العجل، ولهذا قال الله سبحانه وتعالى:

“Ayat ini dijadikan oleh para ulama sebagai dalil untuk menetapkan perkataan Allah dan bahwasanya sifat berkata adalah sifat kesempurnaan, sedangkan tidak berkata adalah sifat kekurangan yang dijadikan dalil untuk meniadakan ketuhanan dari patung anak sapi. Karena itu Allah berfirman:

{أَفَلا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا} [طه: 89]

“Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa patung anak sapi itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka?” (QS. Thahaa: 89)

فكيف يعبدون العجل وهو لا يكلمهم؟!

Maka bagaimana bisa mereka beribadah kepada patung anak sapi, padahal ia tidak bisa berbicara dengan mereka?!” (Syarh Tafsir Ibn Katsir)

Kalau memang patung anak sapi itu tidak layak menjadi Tuhan karena tidak bisa berbicara, maka pantaslah kalau Tuhan yang sesungguhnya bisa berbicara.

Karena itu, anehlah pendapat sekte Jahmiyyah dan Muktazilah yang menyatakan bahwa Allah tidak berbicara dan tidak memiliki sifat berbicara!

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

وقال العلماء: إن بني إسرائيل مع كفرهم، وكونهم وقعوا في الشرك والكفر، وعبدوا العجل، صاروا أحسن حالاً من الجهمية والمعتزلة في هذه الحالة، فقد قال المعتزلة: إن الله لا يتكلم، وقال الله:

“Para ulama menjelaskan bahwa Bani Israel bersamaan dengan kekafiran mereka, keadaan mereka yang terjatuh dalam kemusyrikan dan kekafiran, dan beribadah kepada patung anak sapi, keadaan mereka itu lebih baik daripada Jahmiyyah dan Muktazilah dalam hal ini. Karena sesungguhnya Muktazilah berpendapat bahwa Allah tidak berkata, padahal Allah telah berfirman:

أَفَلا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا

“Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa patung anak sapi itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka?”

إنه لا يتكلم، فلو كانوا ينكرون الكلام لقالوا:

Yakni patung itu tidak berbicara. Kalau Bani Israel menolak bahwa Allah bisa berbicara, tentu mereka akan berkata:

وربك لا يتكلم أيضاً

“Dan Tuhanmu juga tidak bisa berbicara!”

لكنهم سكتوا، فالمعتزلة وقعوا في هوة سحيقة في هذه المسألة جعلتهم تحت اليهود الذين عبدوا العجل، فهم أحسن حالاً من هذه الجهة.

Namun, mereka diam. Sedangkan Muktazilah telah terjatuh ke dalam kesalahan yang parah dalam masalah ini yang membuat mereka di bawah kaum Yahudi yang telah menyembah patung anak sapi. Karena itu, keadaan kaum Yahudi lebih baik daripada mereka dari sisi ini.” (Syarh Tafsir Ibn Katsir)

 

Siberut, 12 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya