Apa itu kekafiran?
Secara bahasa kekafiran berasal dari kata kufrun yang arti menutup. Dan seorang dikatakan kafir, karena ia telah menutup hatinya dengan kekafiran.
Kekafiran ada 2 macam: Kekafiran besar dan kekafiran kecil.
Apa Itu Kekafiran Besar?
Yang dimaksud dengan kekafiran besar yaitu:
كل اعتقاد أو قول أو فعل أو ترك يناقض الإيمان
“Setiap keyakinan, perkataan, atau perbuatan yang membatalkan keimanan.” (Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah)
Artinya, siapa yang melakukan kekafiran besar, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Apa Saja Macam Kekafiran Besar?
- Kekafiran berupa pengingkaran dan pendustaan.
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak ketika itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Al-‘Ankabuut: 68)
Siapa yang mengingkari dan mendustakan salah satu pokok agama Islam, atau ajaran Islam yang telah tetap dan pasti, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Pengingkaran dan pendustaan di sini bisa dengan hati atau dengan lisan, atau dengan perbuatan.
Adapun pengingkaran dan pendustaan dengan hati, maka itu seperti:
أن يعزم على الكفر في الحال أو في المستقبل، فهذا كله ردة؛ لأنه يدل على إنكاره لأصول الإسلام وأنه الدين الحق الذي لا يقبل من أحد سواه
“Bertekad untuk kafir ketika itu juga atau di kemudian hari. Ini semua adalah kemurtadan. Sebab, itu menunjukkan pengingkarannya terhadap pokok-pokok Islam dan bahwa Islam adalah agama benar yang tidak diterima selain itu dari seorang pun.” (Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah)
Adapun pengingkaran dan pendustaan dengan lisan:
أي ينكر ذلك بلسانه، وقلبه مصدقٌ به، إما هزلاً أو استهزاءً….وإما إرضاءً لكافر، أو لمصلحة دنيوية، أو عناداً في حال مشاجرة أوغيرها…
“Yaitu mengingkari itu dengan lisannya sedangkan hatinya membenarkannya, entah karena bercanda atau mencela….atau dalam rangka mencari keridaan orang kafir atau karena maslahat dunia atau penentangan ketika sedang bertengkar atau selainnya….” (Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah)
Adapun pengingkaran dan pendustaan dengan perbuatan, maka itu seperti:
أن يصلي إلى غير القبلة؛ لأنه يدل على إنكاره الإجماع القطعي والنصوص الدالة على وجوب التوجه إلى الكعبة وعدم صحة صلاة من توجه إلى غيرها
“Salat ke arah selain kiblat. Sebab, itu menunjukkan pengingkarannya terhadap kesepakatan para ulama yang pasti dan nas-nas yang menunjukkan wajibnya menghadap ke Kabah dan tidak sahnya salat orang yang menghadap kepada selainnya.” (Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah)
- Kekafiran berupa keraguan
“(Allah berfirman:) “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka Jahannam semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas, dan bersikap ragu-ragu.” (QS. Qaaf: 24-25)
Siapa yang meragukan salah satu pokok agama Islam, atau ajaran Islam yang telah tetap dan pasti, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Seperti apa contohnya?
Syekh Abdullah Al-Jibrin berkata:
ومن أمثلة هذا النوع: أن يشك في صحة القرآن، أو يشك في ثبوت عذاب القبر، أو يتردد في أن جبريل – عليه السلام – من ملائكة الله تعالى، أو يشك في تحريم الخمر، أو يشك في وجوب الزكاة، أو يشك في كفر اليهود أو النصار….
“Termasuk contoh jenis ini yaitu meragukan kebenaran Al-Quran, atau meragukan kebenaran azab kubur, atau sangsi bahwa Jibril termasuk malaikat Allah atau meragukan pengharaman minuman keras, atau meragukan wajibnya zakat, atau meragukan kafirnya Yahudi dan Nashrani….” (Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah)
- Kekafiran berupa keengganan dan menyombongkan diri
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Siapa yang mengakui dengan hatinya dan lisannya pokok-pokok agama Islam, atau ajaran Islam yang telah tetap dan pasti, tetapi anggota badannya menolak untuk tunduk pada aturan Islam karena kesombongan, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Seperti apa contohnya?
Selain seperti Iblis:
ومن أمثلته أيضاً: أن يمتنع شخص عن لبس لباس الإحرام؛ لأنه في زعمه لباس الفقراء ولا يليق به، ونحو ذلك
“Termasuk contoh ini juga yaitu seseorang tidak mau memakai pakaian ihram, karena menurut anggapannya itu adalah pakaian orang-orang miskin dan itu tidak pantas baginya dan semacamnya.” (Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah)
- Kekafiran berupa celaan dan ejekan
“Katakanlah, ‘Apakah Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian perolok-olok?’ Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman!” (QS. At-Taubah: 65-66)
Siapa yang mencela atau mengejek salah satu pokok agama Islam, atau ajaran Islam yang telah tetap dan pasti, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Seperti apa contohnya?
Seperti bercanda dengan mengatakan, “Al-Quran itu kitab porno!”
Seperti bergurau dengan mengatakan, “Saya sudah tobat dari agama!”
Seperti berkelakar dengan mengatakan, “Setan itu lebih baik dibandingkan Nabi Adam!”
Seperti berseloroh dengan mengatakan, “Allah keliru telah menyebutkan poligami dalam Al-Quran!”
Dan ejekan lain yang semacamnya.
- Kekafiran berupa kebencian
“Dan orang-orang yang kafir, maka celakalah mereka, dan Allah menghapus segala amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka membenci apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)
Siapa yang membenci salah satu pokok agama Islam, atau ajaran Islam yang telah tetap dan pasti, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Seperti apa contohnya?
Seperti dengan mengatakan:
“Saya tidak suka salat, walaupun saya selalu salat!”
“Saya tidak suka puasa Ramadhan, walaupun saya berpuasa!”
“Saya tidak suka jilbab, walaupun saya memakainya!”
Dan ucapan yang semacamnya yang menunjukkan kebencian terhadap salah satu ajaran Islam.
- Kekafiran berupa berpaling.
“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaaf: 3)
Siapa yang berpaling dari Islam, Ia tidak mau mempelajarinya dan tidak mau mengamalkannya, maka ia telah membatalkan imannya dan keluar dari Islam.
Seperti apa berpaling yang membatalkan iman di sini?
Syekh Saleh Alu Asy-Syekh berkata:
ضابطه أنه لا يتعلم الدين ولا يعمل به، ليس له هِمَّةْ في معرفَةِ توحيدٍ ولا عبادة لا من جِهَةِ العلم ولا من جهة العمل؛ يعني جميعاً…..
“Yang menjadi patokan yaitu ia tidak mempelajari agama ini dan tidak mengamalkannya. Ia tidak mempunyai hasrat untuk mengetahui tauhid dan tidak pula ibadah, baik dari sisi ilmu maupun amal. Yakni semuanya….
مثاله شخص في بلدنا عنده الوسائل كافية، والكتب موجودة، والدراسة موجودة، وأهل العلم موجودين، والخُطَبْ والجُمَعْ، ولا يهتم بهذا أبدا، مُعْرِضْ تماماً؛ مادِّي لا يهتم لا بصلاةٍ ولا بسماع آية ولا بسماع خطبة ولا يتعلم.
Contohnya ada seseorang yang tinggal di negeri kita. Ia memiliki sarana yang cukup, buku-buku ada, pelajaran ada, para ulama ada, khutbah-khutbah dan salat Jumat ada. Namun, ia tidak pernah peduli terhadap itu. Ia berpaling sama sekali. Ia seorang materialis. Ia tidak peduli, baik terhadap salat, mendengar ayat, maupun mendengar khutbah dan tidak pula belajar.
هذا هو الذي يكفر بالإعراض، لا يتعلم الدين ولا يعمل به، لا يرفع به رأساً ولا يهمه لا من قريب ولا من بعيد
Inilah orang yang dikafirkan karena berpaling. Ia tidak mempelajari agama ini dan tidak pula mengamalkannya. Ia tidak mau memberikan perhatiannya, dan tidak peduli, baik dari dekat maupun jauh.” (Ithaf As-Sail Bima Fii Ath-Thahawiyyah Min Masail)
Siberut, 29 Muharram 1443
Abu Yahya Adiya






