Ada dua keadaan yang berbeda. Hidup serba kekurangan dan hidup serba berkecukupan.
Dan banyak orang yang salah dalam menyikapi keduanya.
Allah berfirman:
فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
“Adapun manusia bila Tuhannya mengujinya lalu memberinya kemuliaan dan kesenangan, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.” (QS. Al-Fajr: 15)
Bila Allah memberinya anak, harta, jabatan dan berbagai kenikmatan lainnya, maka ia membanggakan dirinya.
Ia menyangka kenikmatan yang ada pada dirinya adalah tanda yang menunjukkan kemuliaan dan kedekatan dirinya dengan-Nya.
Dan Dia berfirman:
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
“Namun, bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.” (QS. Al-Fajr: 15)
Bila Allah menyempitkan rezekinya dan menyusahkan hidupnya, maka ia tidak bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang ada. Ia tidak bersyukur kepada-Nya atas kesehatan tubuhnya. Ia tidak bersyukur kepada-Nya atas anggota badannya yang normal.
Dan ia menyangka kalau keadaan yang ia hadapi adalah tanda yang menunjukkan bahwa Allah menghinakannya. Padahal….
Nabi ﷺ bersabda:
وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّهُ
“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak Dia cintai. Sedangkan agama hanya Dia berikan kepada orang yang Dia cintai. Siapa yang Allah beri agama, maka sungguh, Dia telah mencintainya.” (HR. Ahmad)
Berlimpahnya kenikmatan duniawi pada seseorang tidaklah menunjukkan bahwa Allah mencintai dan memuliakan orang tersebut. Sebab, Allah memberikan kenikmatan duniawi kepada siapa saja, baik kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai.
Adapun kenikmatan ukhrawi, berupa kemampuan untuk memahami agama dan mengamalkannya, maka kenikmatan tersebut hanya Dia berikan kepada orang yang Dia cintai.
Kalau seseorang sudah bisa memahami agama dan mengamalkannya, maka hendaknya ia bergembira. Karena, itu tanda bahwa Allah mencintainya, baik kenikmatan duniawi mengelilinginya maupun tidak.
Namun, kalau seseorang tidak mau memahami agama, atau mengamalkannya, maka hendaknya ia berduka. Karena, itu tanda bahwa Allah membencinya, baik kenikmatan duniawi mengelilinginya maupun tidak.
Siberut, 12 Jumada Al-Ulaa 1444
Abu Yahya Adiya






