Kesedihan Sa’id bin Jubair

Kesedihan Sa’id bin Jubair

Ketika sedang di Persia, Sa’id bin Jubair terlihat bersedih. Ia berkata:

لَيْسَ أَحَدٌ يَسْأَلُنِي عَنْ شَيْءٍ

“Tidak ada seseorang pun yang bertanya kepadaku tentang sesuatu pun.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Sa’id bin Jubair adalah ulama besar dari kota Kufah dan juga seorang tabiin yang sangat populer.

Ketika tidak ada seorang pun di Persia yang bertanya kepadanya tentang agama, ia merasa bahwa ilmunya tidak terpakai, maka ia pun bersedih.

Kenapa ia harus bersedih?

Sa’id bin Jubair pernah berkata:

وَدِدْتُ النَّاسَ أَخَذُوا مَا عِنْدِي، فَإِنَّهُ مِمَّا يَهُمُّنِي.

“Aku berharap orang-orang mengambil ilmu dariku. Sesungguhnya itu termasuk perkara yang penting bagiku.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Kenapa itu termasuk perkara yang penting baginya?

Sa’id bin Jubair berkata:

لأَنْ أَنْشُرَ عِلْمِي، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَذْهَبَ بِهِ إِلَى قَبْرِي

“Sungguh, seandainya kusebarkan ilmuku, itu lebih kusukai daripada itu kubawa ke dalam kuburku.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Sa’id bin Jubair ingin ilmunya terus bermanfaat bagi orang lain.

Ia tidak ingin ilmunya berhenti dengan kematiannya. Ia ingin ilmunya terus bermanfaat sepeninggalnya.

Nabi صلى الله عليه وسلم  bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika mati seorang insan, maka terputuslah segala amalannya, kecuali dalam tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Ada orang yang sudah mati, dan amalannya ikut mati. Dan ada orang yang sudah mati, tapi amalannya tidak ikut mati.

Maka, mana yang kita pilih?

 

Siberut, 29 Rajab 1444

Abu Yahya Adiya