Kesepian dalam Kebenaran

Seorang muslim dituntut untuk mencari dan mengikuti kebenaran.

Jika ia bersungguh-sungguh mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya.

Dan kalau sudah menemukannya, maka wajib baginya untuk mengamalkannya.

Dan jika ia telah mengamalkannya sebagaimana mestinya, niscaya ia menjadi hamba-hamba kesayangan-Nya, walaupun semua orang menyelisihi dirinya.

Disebutkan dalam kitab-kitab Sunan, As-Sunnah, Syarh Ushul i’tiqad Ahlis Sunnah wal jama’ah dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Abu Hurairah dan para sahabat lainnya bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة

“Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi 71 golongan. Dan telah terpecah orang-orang Nashrani menjadi 72 golongan. Dan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Seluruhnya di neraka kecuali satu.”

Para sahabat bertanya:

ومن هي يا رسول الله؟

“Siapa yang satu itu wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ menjawab:

من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي

“Siapa pun yang mengikuti aku dan para sahabatku pada hari ini.”

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ ditanya tentang siapa yang satu itu.

Maka beliau pun menjawab, “Al-Jama’ah.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan Al-Jama’ah? Apakah itu orang-orang banyak?

Abdullah bin Mas’ud berkata:

إن جمهور الجماعة الذين فارقوا الجماعة الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

“Sesungguhnya mayoritas orang telah meninggalkan Al-Jama’ah. Al-Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran, meskipun engkau hanya sendirian.” (Tarikh Dimasy)

Ya, meskipun sendiri. Walaupun tidak ada teman yang menemani. Walaupun banyak orang yang memusuhi.

Allah berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Nabi ﷺ bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat. Maka aku melihat ada seorang nabi bersama beberapa orang. Ada seorang nabi bersama satu atau dua orang. Dan ada nabi yang tidak seorang pun bersamanya…” (HR. Muslim)

Karena itu, seorang muslim sejati tidak merasa sedih dan kesepian dengan sedikitnya orang yang menempuh kebenaran. Sebab, bukan keridaan manusia yang ia cari. Akan tetapi, keridaan Allah dan balasan-Nya lah yang ia cari.

 

Siberut, 19 Sya’ban 1442

Abu Yahya Adiya