Suatu hari Ibnu ‘Umar melewati seorang budak penggembala kambing lalu bertanya kepadanya:
هَلْ من جَزَرَةٍ؟
“Apakah ada kambing yang bisa disembelih?”
Artinya Ibnu ‘Umar membujuk budak itu untuk menjual kambing yang ia gembalakan.
Budak itu berkata:
ليس ها هنا رَبُّهَا
“Pemiliknya sedang tidak ada di sini.”
Maka Ibnu ‘Umar berkata:
تَقُولُ لَهُ: أَكَلَهَا الذِّئْبُ.
“Engkau katakan saja bahwa kambingnya dimakan oleh serigala.”
Ibnu ‘Umar ‘menggoda’nya untuk berbohong.
Lantas apa reaksi si budak itu?
Zaid bin Aslam berkata:
فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَ:
“Budak itu mengangkat kepalanya ke atas dan berkata:
فَأَيْنَ اللَّهُ؟
“Lalu di manakah Allah?”
Ucapan singkat tapi menyentuh hati. Karena itu Ibnu ‘Umar berkata:
أَنَا وَاللَّهِ أَحَقُّ أَنْ أَقُولَ: أَيْنَ اللَّهُ؟
“Demi Allah, aku lebih berhak untuk berkata di manakah Allah.”
Zaid bin Aslam berkata:
وَاشْتَرَى الرَّاعِيَ وَالْغَنَمَ. فَأَعْتَقَهُ. وأعطاه الغنم.
“Ibnu ‘Umar pun membeli kambing dan budak itu lalu memerdekakannya dan memberikan kambing tersebut kepadanya.” (Al-‘Uluw)
Walaupun banyak orang menganggap rendah kedudukannya, tapi budak itu mempunyai rasa takut kepada Tuhannya.
Ia tidak berani mendurhakai Tuhannya. Ia tidak berani menzalimi hamba-hamba-Nya.
Maka bagaimana dengan kita yang berstatus sebagai orang merdeka? Adakah rasa takut tersebut pada diri kita?
Allah berfirman:
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi ketika tiba-tiba ia berguncang?
أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
Atau sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepada kalian? Maka kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS. Al-Mulk: 16-17)
Seorang budak yang takut kepada-Nya itu lebih baik daripada orang merdeka yang tidak takut kepada-Nya.
Jika kita yang berstatus sebagai orang merdeka merasa aman dari siksa-Nya, sedangkan orang yang berstatus budak merasa takut akan siksa-Nya, maka kitalah yang menjadi budak yang sebenarnya, sedangkan budak itu, dialah orang merdeka yang sesungguhnya.
Siberut, 13 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






