Apa sikap kita tatkala melihat seseorang datang untuk mempelajari agama?
Dan apa sikap kita tatkala mengetahui seseorang hendak mendalami agama?
Suatu hari Shafwan bin ‘Assal mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي جِئْتُ أَطْلُبُ الْعِلْمَ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu.”
Beliau ﷺ pun bersabda:
مَرْحَبًا بطالبِ الْعِلْمِ، طَالِبُ الْعِلْمِ لَتَحُفُّهُ الْمَلَائِكَةُ وَتُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا، ثُمَّ يَرْكَبُ بَعْضُهُ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغُوا السَّمَاءَ الدُّنْيَا مِنْ حُبِّهِمْ لِمَا يَطْلُبُ
“Selamat datang wahai penuntut ilmu! Sesungguhnya para malaikat mengelilingi dan menaungi penuntut ilmu dengan sayap-sayap mereka, kemudian mereka saling bertumpuk hingga ke langit dunia karena mereka menyukai apa yang ia cari.” (HR. Thabrani)
“Selamat datang wahai penuntut ilmu.” Inilah sambutan istimewa yang diberikan nabi kita kepada Shafwan bin ‘Assal, tatkala ia hendak menuntut ilmu agama.
Beliau ﷺ berusaha menggembirakannya. Setelah itu….
“Sesungguhnya para malaikat mengelilingi dan menaungi penuntut ilmu dengan sayap-sayap mereka, kemudian mereka saling bertumpuk hingga ke langit dunia karena mereka menyukai apa yang ia cari”. Beliau berusaha menggembirakannya untuk kedua kalinya.
Suatu hari seseorang dari Syam datang ke Madinah lalu menemui ‘Umar bin Al-Khaththab. Kemudian ‘Umar bertanya:
مَا أَقْدَمَك؟
“Apa yang menyebabkanmu datang ke sini?”
Orang itu menjawab:
قَدِمْت لِأَتَعَلَّمَ التَّشَهُّدَ
“Aku datang untuk mempelajari tasyahud!”
‘Umar pun menangis sampai basah jenggotnya! Lalu ia berkata:
وَاَللَّهِ إنِّي لَأَرْجُو مِنْ اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَك أَبَدًا
“Demi Allah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah agar tidak menyiksamu sama sekali!” (Badai’i Ash-Shanai’i Fii Tartiib Asy-Syarai’i)
Lihatlah, aku berharap kepada Allah agar tidak menyiksamu sama sekali. ‘Umar ingin menggembirakannya!
Maka demikian pula hendaknya sikap kita terhadap orang yang ingin mendalami agamanya. Kita menggembirakannya dan memberikan semangat kepadanya.
Karena, yang ia lakukan adalah perbuatan yang sangat mulia.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi)
Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan:
يعني فله أجر من خرج في الجهاد إلى أن يرجع إلى بيته؛ لأنه كالمجاهد في إحياء الدين وإذلال الشيطان وإتعاب النفس
“Maksudnya yaitu ia mendapatkan pahala orang yang keluar untuk berjihad sampai ia kembali ke rumahnya. Karena, ia seperti seorang mujahid dalam hal menghidupkan agama, menghinakan setan, dan merasakan keletihan.” (Mir’aat Al-Mafaatiih Syarh Misykaat Al-Mashabiih)
Bukan cuma seperti mujahid, seorang pencari ilmu agama juga sebenarnya seperti sahabat para nabi yang mulia.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
فَمن طلب الْعلم ليحيى بِهِ الاسلام فَهُوَ من الصديقين ودرجته بعد دَرَجَة النُّبُوَّة
“Siapa yang mencari ilmu agar Islam tetap hidup, maka ia termasuk dari kalangan sahabat para nabi yang mulia dan kedudukannya setelah kedudukan nabi.” (Miftah Daar As-Sa’adah)
Maka, sambutlah penuntut ilmu agama dan muliakanlah ia. Berilah ia bantuan berupa harta dan tenaga, kalau memang kita mampu. Kalau tidak mampu, maka doakanlah. Jangan malah….
“Untuk apa belajar agama? Nanti kamu mau makan apa?!”
“Kamu mau belajar agama? Nanti masa depan kamu suram!”
Jangan sampai kita menjadi wakil iblis di muka bumi!
Imam Ibnul Qayyim berkata:
نواب ابليس فِي الارض وهم الَّذِي يثبطون النَّاس عَن طلب الْعلم والتفقه فِي الدّين فَهَؤُلَاءِ اضر عَلَيْهِم من شياطين الْجِنّ فانهم يحولون بَين الْقُلُوب وَبَين هدى الله وَطَرِيقه
“Wakil-wakil Iblis di muka bumi yaitu mereka yang melemahkankan keinginan orang-orang untuk mencari ilmu agama dan mendalaminya. Mereka lebih berbahaya bagi umat manusia daripada setan dari kalangan jin. Karena, mereka menghalangi hati-hati manusia dari petunjuk Allah dan jalan-Nya.” (Miftah Daar As-Sa’adah)
Siberut, 17 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






