Lihat ke Bawah untuk Dunia, Lihat ke Atas untuk Akhirat

Lihat ke Bawah untuk Dunia, Lihat ke Atas untuk Akhirat

“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian!”

Demikianlah Nabi ﷺ memberikan nasihat, dan itu termasuk sebaik-baik nasihat. Lalu, mengapa beliau memberikan nasihat demikian?

Beliau ﷺ menyebutkan alasannya:

فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian.” (HR. Bukhārī dan Muslim)

Seseorang tidak akan meremehkan nikmat Tuhannya, bahkan akan lebih bersyukur dan menghargainya, jika ia sering melihat orang yang lebih rendah darinya. Namun, rendah di sini dalam hal apa?

Syekh Muḥammad bin ‘Ali bin Ḥizām Al-Ba‘dānī berkata:

المقصود في الحديث أن الإنسان في الأمور الدنيوية ينظر إلى من هو أدنى منه؛ ليعلم نعمة الله عليه

“Maksud dari hadis ini yakni dalam perkara dunia, hendaknya seseorang melihat orang yang lebih rendah darinya, agar ia menyadari nikmat Allah yang ada padanya.” (Fatḥu Al-‘Allām fī Dirāsah Aḥādīṡ Bulūg Al-Marām)

Jadi, dalam perkara dunia, seseorang dianjurkan untuk melihat orang yang berada di bawahnya. Dengan demikian, ia akan menyadari betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Itu dalam perkara dunia. Adapun dalam perkara agama…

Syekh Muḥammad bin ‘Ali bin Ḥizām Al-Ba‘dānī berkata:

وأما في الدين، والعبادة؛ فعليه أن ينظر إلى من هو أرفع منه؛ حتى لا يُعجب بنفسه، ويتكبر، وحتى يزداد اجتهادًا في العبادة.

“Adapun dalam agama dan ibadah, hendaknya ia melihat orang yang berada di atasnya, agar ia tidak ujub dan menyombongkan dirinya. serta supaya bertambahlah kesungguhannya dalam beribadah.” (Fatḥu Al-‘Allām fī Dirāsah Aḥādīṡ Bulūg Al-Marām)

Dalam perkara agama, hendaknya seseorang sering melihat orang yang berada di atasnya. Hendaknya ia sering melihat orang lebih rajin ibadah, lebih dermawan, dan lebih banyak melakukan kebaikan daripada dirinya. Dengan demikian, hilanglah penyakit ujub dari dirinya dan bertambahlah kesungguhannya dalam mengabdi kepada Tuhannya.

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

 وقد وقع في نسخة عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده رفعه قال:

“Telah ada dalam naskah ‘Amru bin Syu‘aib, dari ayahya, dari kakeknya, ia menjadikan itu marfuk, yakni:

خصلتان من كانتا فيه كتبه الله شاكرا صابرا: من نظر في دنياه إلى من هو دونه فحمد الله على ما فضله به عليه، ومن نظر في دينه إلى من هو فوقه فاقتدى به

“Dua sifat yang jika ada pada seseorang, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar: siapa yang dalam urusan dunianya melihat orang yang berada di bawahnya, lalu ia memuji Allah atas kelebihan yang Dia berikan kepadanya, dan siapa yang dalam urusan agamanya melihat orang yang berada di atasnya, lalu ia meneladaninya.” (Fatḥu Al-Bārī Syarh Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

Maka, lihatlah orang yang lebih rajin beribadah daripada dirimu. Tengoklah orang yang lebih banyak berinfak daripada dirimu. Amatilah orang yang lebih beradab dan berilmu daripada dirimu. Tirulah mereka agar bertambah kualitas dirimu. Berlomba-lombalah meraih karunia Tuhanmu.

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 26)

 

Siberut, 23 Rabī’ul Ṡāni 1447

Abu Yahya Adiya