Memaafkan Itu Menyehatkan?

Memaafkan Itu Menyehatkan?

Apa perasaanmu jika tiba-tiba ada orang yang menarik pakaianmu dengan keras?

Dan apa perasaanmu kalau mendadak ada orang yang bersikap kasar kepadamu?

Suatu hari Anas bin Malik berjalan bersama Nabi ﷺ. Tidak berapa lama, seorang Arab gunung menyusul Nabi ﷺ, lalu menarik baju beliau dengan begitu keras.

Ya, begitu keras. Saking kerasnya sampai-sampai tarikannya membekas di leher beliau ﷺ.

Setelah melakukan kekasaran itu, ia berkata:

يَا مُحَمَّدُ مُرْ لِي مِن مالِ اللَّهِ الَّذِي عِندَكَ

“Wahai Muhammad, perintahkanlah untuk memberikan kepadaku harta Allah yang ada padamu!”

Anas berkata:

فالتَفَتَ إِلَيْه، فضحِكَ، ثُمَّ أَمر لَهُ بعَطَاءٍ

“Nabi ﷺ menoleh pada orang itu lalu tertawa, kemudian beliau memerintahkan supaya orang tadi diberikan pemberian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah kelancangan orang Arab gunung ini, dan perhatikanlah, apa sikap Nabi?

Ternyata beliau memaafkannya, dan tidak membalasnya.

Bukankah perilakunya demikian lancang?

Bukankah perbuatannya sangat tidak beradab?

Namun, karena perbuatannya tidak melanggar hak Allah dan hanya menyinggung hak beliau, maka Nabi ﷺ pun mengambil sikap memaafkannya dan tidak membalasnya.

Itulah akhlak mulia dari sosok yang mulia. Seorang pemimpin nabi dan rasul yang mulia. Dalam hadis ini beliau mencontohkan kepada kita suatu perbuatan yang mulia.

Apa itu?

Bermurah hati. Mudah memaafkan. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Mudah memaafkan kekhilafan orang lain. Selama kesalahan itu bukan terkait dengan hak Allah. Selama kesalahan itu tidak melanggar hak Allah.

‘Aisyah berkata:

وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا

“Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas dendam karena dirinya. Namun, jika larangan Allah dilanggar, maka beliau pun membalasnya karena Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Keutamaan Memaafkan

Siapa yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.

Siapa yang mudah melupakan kesalahan orang lain, maka Allah akan melupakan kesalahannya.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُم والله غفور رحيم

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin jika Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)

Adakah orang yang tidak membutuhkan ampunan-Nya?

Adakah orang yang tidak membutuhkan maaf dari-Nya?

Ketahuilah, memaafkan tidak membuatmu hina, justru membuatmu mulia.

Nabi ﷺ bersabda:

وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Allah tidaklah menambahkan bagi orang yang memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Bahkan, bukan cuma menambah kemuliaanmu, memaafkan juga akan menyehatkanmu.

Penelitian kedokteran membuktikan bahwa orang yang selalu curiga, berprasangka buruk, menyimpan dendam dan marah kepada orang lain akan terserang penyakit yang fatal, mulai dari stres, stroke, penyakit jantung, dan berbagai penyakit bahaya lainnya. Dan semua itu bisa berujung pada kematiannya.

Karena itu, hati-hatilah, dan waspadalah, jangan sampai marah dan dendam ‘memerkosa’ hati dan badanmu!

 

Siberut, 13 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya