Melawan Rintangan dengan Istikamah

Melawan Rintangan dengan Istikamah

Dulunya ia rajin salat, tapi sekarang….

Dulunya  ia selalu menutup aurat, tapi sekarang….

Dulunya ia semangat menghadiri majelis ilmu, tapi sekarang….

Hati manusia itu selalu berbolak-balik.

Kadang semangatnya untuk menjadi baik menguat, dan kadang semangatnya untuk menjadi baik melemah. Sedangkan setan terus berusaha menyeretnya ke neraka tanpa lelah.

Karena itu, ia mesti istikamah. Teguh pendirian. Terus dalam kebaikan.

Allah berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Istikamah bukan berarti engkau tidak jatuh sama sekali.

Istikamah adalah…

Engkau berjalan menuju Tuhanmu. Namun, tatkala engkau jatuh, engkau langsung bangkit dan terus melanjutkan perjalananmu.

Engkau terus berjalan. Namun, tatkala ada rintangan yang menghadang, engkau tegar menghadapinya dan berusaha melewatinya, demi meneruskan perjalanan selanjutnya.

“Maka tetaplah engkau di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu.”

Itulah wasiat mulia dari Tuhan Yang Maha Mulia. Dan itu juga wasiat dari rasul yang mulia.

Sufyan bin ‘Abdullah Ats-Tsaqafi berkata kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُول اللَّهِ قُلْ لِي في الإِسلامِ قَولاً لاَ أَسْأَلُ عنْه أَحداً غيْركَ

“Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang tidak akan kutanyakan kepada seorang pun selainmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ: آمَنْت باللَّهِ: ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istikamahlah!” (HR. Bukhari)

Ya, istikamahlah. Istikamahlah mempertahankan keimananmu. Tetaplah menjalankan perintah Tuhanmu dan teruslah menjauhi larangan Tuhanmu. Hingga maut menjemputmu.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata):

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati. Bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta.

نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sebagai penghormatan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fushshilat: 30-32)

 

Siberut, 27 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya