Membentak Burung dan Menggarisi Tanah

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعِيَافَةَ، وَالطَّرْقَ، وَالطِّيَرَةَ مِنَ الْجِبْتِ

“Iyafah, tharq dan thiyarah adalah termasuk Jibt.” (HR. Ahmad)

Jibt dikatakan oleh Umar bin Khattab bahwa itu adalah:

السِّحْرُ

“Sihir.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim)

Apa itu ‘iyafah dan tharq?

Imam ‘Auf bin Abi Jamilah berkata:

الْعِيَافَةُ: زَجْرُ الطَّيْرِ، وَالطَّرْقُ: الْخَطُّ يُخَطُّ فِي الْأَرْضِ

“Iyafah adalah menghardik burung. Tharq adalah membuat garis di atas tanah. ” (Sunan Abu Daud)

Apa maksud menghardik burung di sini? Yaitu menghardik burung untuk mengambil sikap. Ini kebiasaan orang-orang Jahiliah. Kalau ada di antara mereka yang hendak pergi dari rumahnya, ia akan melakukan itu.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فإذا زجر الطائر وذهب شمالا تشاءم، وإذا ذهب يمينا تفاءل

“Jika ia menghardik burung, lalu burung itu pergi ke arah kiri, maka ia pun pesimis. Akan tetapi jika burung itu pergi ke arah kanan, maka ia pun optimis.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Apa maksud membuat garis di atas tanah?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

ومعنى الخط بالأرض معروف عندهم، يضربون به على الرمل على سبيل السحر والكهانة، ويفعله النساء غالبا

“Makna membuat garis di atas tanah sudah diketahui oleh orang-orang Arab, yaitu mereka membuat itu di atas pasir sebagai bentuk sihir dan ramalan, biasanya dilakukan oleh kaum wanita.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Apa itu thiyarah?

Imam Al-‘Azhim Abadi menjelaskan:

هي التَّشَاؤُمُ بِالشَّيْءِ

“Thiyarah adalah merasa sial karena sesuatu.” (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)

Dan sesuatu itu bisa berupa hewan, manusia, tempat, waktu, hari, tanggal, bulan dan semacamnya.

Contohnya seperti orang-orang Arab dahulu mereka meyakini bahwa burung hantu adalah burung sial. Jika mereka mendengar suara burung hantu, maka mereka yakin kalau itu pertanda bahwa ada orang yang akan mati.

Dan juga keyakinan mereka bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Begitu pula Syawwal menurut mereka adalah bulan sial.

Karena itu tersebar di kalangan Arab dahulu bahwa wanita yang menikah di bulan Syawwal tidak akan bahagia dan tidak pula dicintai suaminya.

Padahal ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها kapan beliau menikah dengan Nabi ﷺ? Di bulan apa beliau menikah dengan Nabi ﷺ?

Aisyah berkata:

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ ﷺ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟

“Rasulullah ﷺ menikahiku di bulan Syawwal dan mencampuriku pula pada bulan Syawwal, lalu siapakah di antara istri-istri Rasulullah ﷺ yang nasibnya lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim)

Ya, adakah wanita yang lebih beruntung daripada Aisyah?

Adakah istri yang lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Aisyah?

Bukankah ia menikah di bulan Syawwal?

Bukankah ia menikah di bulan yang dianggap sial?

Karena itu, keyakinan tentang “hewan sial”, “orang sial”, “hari sial”, “bulan sial”, “nomor sial” dan semacamnya, semua itu adalah bualan. Semua itu omong kosong. Semua itu thiyarah. Semua itu sihir.

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis di atas:

 

  1. Siapa yang merasa sial karena hewan tertentu, hari tertentu, dan nomor tertentu, maka ia telah terjatuh dalam sihir. Dan siapa yang terjatuh dalam sihir, maka ia telah terjatuh dalam kekafiran.

 

  1. Siapa yang meramal kejadian tertentu dengan benda tertentu, maka ia telah terjatuh dalam sihir. Dan siapa yang terjatuh dalam sihir, maka ia telah terjatuh dalam kekafiran.

 

  1. Sihir, takhayul, khurafat, dan segala yang bertentangan dengan akal sehat diperangi oleh Islam.

Siberut, 19 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin
  2. Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud karya Al-‘Azhim Abadi