Jamu itu pahit, tapi banyak manfaatnya. Dan kritik itu seperti jamu. Pahit rasanya, tapi banyak manfaatnya.
Siapa sih yang tidak merasa pahit ketika kekurangannya ditampakkan?
Dan siapa sih yang tidak merasa sakit ketika aibnya disebutkan?
Tentu saja pahit dan sakit. Namun….
Di balik rasa pahit dan sakit itu ada pelajaran yang berharga dan berguna.
Dengan mengetahui aib dan kekurangan diri sendiri, kita jadi tahu bagaimana cara memperbaiki diri kita sendiri.
Dengan mengetahui aib dan kekurangan diri sendiri, kita jadi tahu bagaimana menjadi sosok yang lebih baik lagi.
Berarti, orang yang mengkritikmu sebenarnya sedang berbuat baik kepadamu.
Makanya, untuk apa membalas kritikan dengan kemarahan? Untuk apa membalas kecaman dengan ancaman?
‘Umar bin Al-Khaththab pernah berkata:
رَحِمَ اللَّهُ مَنْ أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan kepadaku aib-aibku. ” (Sunan Ad-Darimi)
Kalau seseorang mau menerima kritikan dan kecaman, itu pertanda bahwa ia orang yang rendah hati. Bisa diharapkan mendapat kebaikan.
Sebaliknya, kalau seseorang tidak mau menerima kritikan dan kecaman, itu pertanda bahwa ia orang yang sombong dan tinggi hati. Sulit diharapkan mendapat kebaikan.
Makanya, jadilah sosok yang rendah hati. Terimalah kritikan, sepedih apapun, dan dari siapa pun. Walau dari orang yang dibenci sekalipun!
‘Abdullah bin Mas’ud berkata:
ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيدا بغيضا
“Siapa yang datang kepadamu membawa kebenaran maka terimalah, walaupun itu datang dari orang yang jauh dan dibenci.
ومن جاءك بالباطل فاردده عليه وإن كان حبيبا قريبا.
Sedangkan siapa yang datang kepadamu membawa kesalahan maka tolaklah, walaupun itu datang dari orang yang dekat lagi dicintai.” (Sifat Ash-Shofwah)
Siberut, 25 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






