Kecewa, kesal dan malas lagi untuk menanam.
Mungkin itulah reaksi yang muncul tatkala kita menyaksikan tanaman yang kita tanam dicuri orang atau dimakan hewan.
Padahal, kita sudah lama menunggu-menunggu hasilnya, dan berharap bisa menikmatinya.
Namun, jangan khawatir dan jangan kecewa.
Tetaplah menanam.
Sebab, bagaimanapun keadaannya, orang yang menanam tetap akan mendapatkan keuntungan.
Dan bagaimanapun kondisinya, orang yang menanam tetap akan mendapatkan kebaikan.
Kok bisa? Bisa!
Sebab, Nabi ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, melainkan apa yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya.
وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ
dan apa yang dicuri darinya akan menjadi sedekah baginya.
وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ
Apa yang dimakan oleh hewan liar pun akan menjadi sedekah baginya.
وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ
Apa yang dimakan burung darinya akan menjadi sedekah baginya.
وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Tidaklah kepunyaannya dikurangi oleh seorang pun, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mendorong kita semua untuk bercocok tanam. Sebab, itu termasuk amalan yang tidak terputus pahalanya, walaupun orang yang menanamnya sudah di dalam kubur.
Selama tanamannya masih dimakan orang, pahala pun mengalir kepadanya
Selama tanamannya dimakan burung atau hewan lainnya, pahala pun mengalir kepadanya.
Bahkan, sekalipun tanamannya dicuri, maka itu pun menjadi tabungan pahala bagi orang yang menanamnya hingga hari kiamat.
Menyenangkan bukan?
Marilah kita menanam, untuk menuai kebaikan.
Marilah kita menanam, untuk menuai keberuntungan.
Dan tidak ada kata terlambat. Kalau pun besok hari kiamat, dan sekarang kita masih sempat untuk menanam tanaman, maka tanamlah!
Nabi ﷺ bersabda:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
“Jika akan terjadi hari kiamat, sementara salah seorang dari kalian masih memegang pohon kurma kecil, maka jika ia mampu untuk menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka hendaknya ia menanam pohon itu.” (HR. Ahmad)
Siberut, 20 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya






