Nabi ﷺ bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
“Siapa yang mencari rida Allah dengan resiko membuat manusia marah, maka Allah akan rida kepadanya dan akan menjadikan manusia rida kepadanya. Dan siapa yang mencari rida manusia dengan resiko membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Allah memiliki sifat rida dan murka, sesuai dengan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya.
Itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan sifat rida dan murka bagi Allah dengan tanpa:
- menyelewengkan maknanya menjadi “keinginan untuk melakukan kebaikan” dan “keinginan untuk membalas kejahatan” seperti yang dilakukan oleh sekte Asy’
- menolak maknanya seperti yang dilakukan oleh sekte Muktazilah dan Jahmiyyah.
- menyerupakan itu dengan sifat makhluk-Nya seperti yang dilakukan oleh sekte Musyabbihah.
- Wajibnya takut kepada Allah dan mendahulukan keridaan-Nya di atas keridaan siapapun.
Karena itu, jangan takut kepada pemimpinmu, sehingga akhirnya engkau melakukan apa pun perintah dari pemimpinmu, walaupun bertentangan dengan aturan Tuhanmu.
Jangan takut kepada masyarakatmu, sehingga akhirnya engkau mengikuti apa pun kebiasaan masyarakatmu, walaupun bertentangan dengan syariat Tuhanmu.
Jangan takut kepada siapa pun, sehingga akhirnya engkau bermaksiat kepada Tuhanmu, apalagi sampai menyekutukan Tuhanmu.
Karena takut kalau anakmu sakit, engkau memakaikan jimat kepada anakmu.
Karena takut kalau rumahmu tertimpa musibah, engkau menyembelih ayam lalu mengucurkan darahnya di pojokan rumah.
Karena takut kalau orang yang ada dalam kubur menimpakan bahaya dan keburukan, engkau meletakkan di kuburnya persembahan.
Padahal…
Siapa yang bisa memberi penyakit kepadamu dan kepada anak-anakmu?
Siapa yang bisa menimpakan malapetaka kepadamu dan kepada anak-anakmu?
Siapa yang bisa mematikan dan menghidupkanmu serta anak-anakmu?
Kalau memang di hatimu masih ada ketakutan seperti tadi, maka ketahuilah, engkau sudah menyekutukan Allah. Engkau harus siap menghadapi kemurkaan dan kutukan dari Allah!
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu, bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An- Nisaa: 48)
- Wajib bertawakal kepada Allah dan bergantung kepada-Nya.
- Siapa yang mendahulukan keridaan-Nya di atas keridaan siapapun, maka ia akan merasakan hasil yang manis. Sebaliknya, siapa yang mendahulukan keridaan selain-Nya di atas keridaan-Nya, maka ia akan merasakan hasil yang pahit.
- Allah membolak-balikan hati manusia sekehendak-Nya. Kadang Allah menyinari hati seseorang dan kadang Allah membiarkannya dalam kegelapan. Dan kebijaksanaan Allah itu pasti ada sebabnya dan ada hikmahnya.
Siberut, 14 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






