Mengalah dalam Masalah Akhirat?

Mengalah dalam Masalah Akhirat?

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Itulah yang Allah firmankan setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga.

Artinya, ayat tadi mendorong orang-orang beriman agar bersegera dan berlomba-berlomba dalam melakukan ibadah dan kebaikan. Berlomba-lomba dalam mengejar dan meraih surga.

Itu terkait dengan akhirat. Adapun terkait dengan dunia, Allah menyebutkan sifat orang-orang mukmin sejati:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Artinya, seorang mukmin sejati mengambil sikap mengalah kepada saudaranya dalam masalah dunia. Adapun dalam masalah akhirat?

Ia tidak mau mengalah, dan memang dalam hal itu tidak pantas untuk mengalah.

Contohnya?

Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا

“Sebaik-baik saf kaum pria adalah yang paling depan. Dan seburuk-buruk saf mereka adalah yang paling belakang.” (HR. Muslim)

Jangan sampai seorang mukmin tidak mau mengisi sebaik-baik saf dengan alasan mengalah kepada saudaranya. Itu bukan mengalah yang terpuji. Bahkan, kalaupun ia mengalah kepada orang tuanya dalam hal demikian, itu pun bukan mengalah yang terpuji.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang mundur dari saf supaya ayahnya menempati safnya.

Maka Imam Ahmad berkata:

ما يعجبني هو يقدر أن يبر أباه بغير هذا

“Itu tidak membuatku kagum. Ia sanggup berbakti kepada ayahnya dengan selain itu.” (Badai’ Al-Fawaid)

 

Siberut, 11 Jumada Ats-Tsaniyah 1445

Abu Yahya Adiya