Suara keras mengejutkan jamaah Jumat. Ketika ‘Abdullah bin ‘Amir sedang menyampaikan khutbah, tiba-tiba Abu Bilal yang ketika itu berada dekat dengan mimbar berkata dengan suara keras:
انْظُرُوا إِلَى أَمِيرِنَا يَلْبَسُ ثِيَابَ الفُسَّاقِ
“Lihatlah pemimpin kita! Ia memakai pakaian orang-orang fasik!”
Dan kebetulan, ‘Abdullah bin ‘Amir memakai pakaian yang halus.
Ketika itu ,seorang sahabat Nabi, Abu Bakrah menyaksikan kejadian itu. Maka ia pun langsung menegur Abu Bilal:
اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
“Diamlah engkau! Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ
“Siapa yang menghinakan pemimpin yang Allah tetapkan di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Tirmidzi)
Faidah yang bisa kita petik dari riwayat ini:
- Hendaknya seseorang mendahulukan prasangka baik kepada saudaranya seiman, terutama kepada pemimpinnya.
Karena itulah Abu Bakrah menegur Abu Bilal dengan menyebutkan hadis tadi. Sebab, bisa jadi ‘Abdullah bin ‘Amir memakai pakaian yang halus bukan dalam rangka meniru orang-orang fasik, melainkan dalam rangka menjaga kewibawaannya sebagai pemimpin.
‘Abdul Haq Ad-Dahlawi berkata:
مع أن ذلك يمكن أن يكون لصَون عزته عند الناس، وهيبته عند الرعايا، كما فعل مثلَ ذلك بعضُ الأكابر من العلماء
“Padahal, mungkin saja ia memakainya dalam rangka menjaga kemuliaannya di hadapan masyarakat dan menjaga kewibawaannya di hadapan rakyat, sebagaimana yang semacam itu dilakukan oleh sebagian ulama besar.” (Lama’aat At-Tanqiih fii Syarh Misykaah Al-Mashaabiih)
- Siapa yang menyaksikan kemungkaran, maka hendaknya ia segera berusaha untuk mengingkarinya. Seperti yang dilakukan oleh Abu Bakrah tadi.
Tatkala Abu Bilal mengucapkan perkataannya itu, Abu Bakrah langsung menegurnya dengan menyebutkan hadis tadi.
Imam Ath-Thibi menjelaskan maksud teguran Abu Bakrah kepada Abu Bilal tadi yakni:
يعني تفسيقك إياه بسبب لبسه هذه الثياب التي يصون بها عزته ليس بحق
“Vonis fasikmu kepadanya disebabkan ia memakai pakaian yang dengannya menjaga kemuliaannya itu tidaklah benar.” (Al-Kasyif ‘an Haqaiq As-Sunan)
- Bolehnya berbicara ketika khatib sedang berkhutbah jika memang ada kemaslahatan yang besar dan nyata. Seperti yang dipraktekkan oleh Abu Bakrah tadi.
Abu Bakrah menegur Abu Bilal dalam keadaan khatib sedang berkhutbah. Sebab, jika perbuatannya tidak segera diingkari, dikhawatirkan timbul bahaya besar, yakni jatuhnya kewibawaan pemimpin.
- Terlarangnya menghinakan pemimpin. Siapa yang menghinakan pemimpin, maka Allah akan menghinakannya.
- Perintah untuk memuliakan pemimpin.
Kalau memang menghinakan pemimpin adalah terlarang, berarti memuliakan pemimpin adalah diperintahkan.
Karena itu, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَجَلَّ سُلْطَانَ الله أَجَلَّهُ الله يَوْمَ القيامة
“Siapa yang memuliakan pemimpin yang Allah tetapkan, maka Allah akan memuliakannya di hari kiamat.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Bukan cuma memuliakannya, hendaknya seorang muslim mendoakan pemimpinnya agar mendapatkan petunjuk, hidayah, dan kebaikan.
Nabi ﷺ bersabda:
خِيارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تحبُّونَهُم ويحبُّونَكُم وتُصلُّونَ علَيهِم ويصلُّونَ علَيكُم
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim)
Imam Asy-Syaukani berkata:
فيه دليل على مشروعية محبَّة الأئمة، والدعاء لهم
“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya mencintai para pemimpin dan mendoakan mereka.” (Nail Al-Authar)
Mendoakan pemimpin itu disyariatkan, bahkan itu merupakan syiar Ahlussunnah, para pemegang kebenaran.
Imam Al-Barbahari berkata:
وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
“Jika engkau melihat seseorang mendoakan penguasa agar mendapatkan keburukan, maka ketahuilah, ia pengikut hawa nafsu. Dan jika engkau melihat seseorang mendoakan penguasa agar mendapatkan kebaikan, maka ketahuilah, ia pengikut sunnah, insya Allah.” (Syarh As-Sunnah)
Siberut, 14 Sya’ban 1446
Abu Yahya Adiya






