Di Mana Letak Kemuliaan Sejati?

Di Mana Letak Kemuliaan Sejati?

Tak semua yang tampak mulia di mata manusia benar-benar mulia di hadapan Sang Pencipta. Seringkali, kemilau dunia menipu mata, sementara cahaya sejati justru tersembunyi dalam jiwa yang bertakwa.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Firman ini seperti lentera yang menerangi hati dan mengarahkan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang kekayaan, keturunan, jabatan, atau rupa yang memesona. Ia bukan milik mereka yang disanjung dunia, tapi milik mereka yang hatinya penuh ketundukan kepada Allah.

Di balik riwayat zaman, tersembunyi kisah-kisah agung tentang jiwa-jiwa yang melambung tinggi, bukan karena emas yang berlimpah atau pangkat yang menjulang, tapi karena cahaya iman dan ketakwaan yang membimbing langkah mereka.

Lihatlah Bilāl bin Rabāḥ, muazin Nabi ﷺ. Ia seorang bekas budak Ethiopia yang berkulit hitam legam dan dipandang hina di mata masyarakat Arab waktu itu. Namun, dengan iman yang tak tergoyahkan, Allah memuliakannya. Nabi ﷺ berkata kepadanya:

 يا بلالُ حدِّثْني بأرجى عمَلٍ عمِلْتَه عندَكَ في الإسلامِ فإنِّي سمِعْتُ اللَّيلةَ خَشْفةَ نَعليكَ بَيْنَ يدَيَّ في الجنَّةِ

“Wahai Bilāl, beritahukan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan berpahala besar setelah engkau masuk Islam! Karena sesungguhnya aku mendengar suara gerakan sandalmu di hadapanku di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemuliaan Bilāl tak datang dari nasab, harta, atau jabatan, melainkan dari kekuatan iman dan ketakwaan yang menembus langit.

Atau renungkanlah tentang ’Abdullāh bin Mas’ud, sahabat Nabi yang berilmu dan sangat paham tentang tafsir Al-Qur’an. Ia seorang lelaki yang kurus, pendek, dan tebal kulitnya.

Suatu hari ’Abdullāh bin Mas’ud memanjat suatu pohon lalu tersingkaplah pakaiannya. Maka, tampaklah betisnya yang kecil sehingga ditertawakan oleh orang-orang. Namun, Rasulullah ﷺ mengangkatnya dengan berkata:

أَتَضْحَكُونَ من دِقَّةِ ساقَيْهِ ! و الذي نفسي بيدِه لَهُمَا أَثْقَلُ في الميزانِ من جَبَلِ أُحُدٍ

“Apakah kalian tertawa karena kedua betisnya yang kecil? Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kedua betisnya lebih berat timbangannya di hari kiamat daripada bukit Uhud!” (HR. Ahmad)

Begitulah… manusia bisa menertawakan fisikmu, tapi Allah menilai hatimu.

Dan siapa yang tak mengenal Al-A’masy, orang yang penglihatannya tidak normal, tetapi hatinya terbuka untuk beribadah secara total? Ia bukan tokoh flamboyan yang dielu-elukan dunia, tetapi…

Disebutkan dalam biografinya di Siyar A’lām An-Nubalā’:

كان الأعمش قريبا من سبعين سنة، لم تفته التكبيرة الأولى

“Al-A’masy hampir 70 tahun lamanya tidak pernah tertinggal dari takbir pertama dalam salat jamaah.”

Masya Allah!

Inilah kemuliaan yang tak bisa dibeli dengan apa pun selain ketundukan total kepada Tuhannya.

Begitu pula Ahluṣṣuffah, para sahabat Nabi yang hidup dalam kefakiran dan kekurangan. Mereka tak punya rumah, tak punya harta, bahkan pakaian pun hanya selembar kain yang nyaris tak menutupi tubuh mereka. Namun, Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka:

لو تعلمون ما لكم عند اللهِ لأحببتُم أن تزدادوا فاقةً و حاجةً

“Seandainya kalian tahu apa yang Allah siapkan untuk kalian, niscaya kalian suka jika bertambah kemiskinan dan kebutuhan kalian.” (HR. Tirmidzi)

Yang mereka punya adalah kekayaan hati. Dan itu lebih mahal daripada dunia dan segala isinya.

Wahai jiwa yang mencari kemuliaan, jangan tertipu oleh dunia yang gemerlap. Ia seperti fatamorgana, yang tampak indah tapi kosong. Jika engkau ingin dimuliakan, carilah itu dalam sujudmu, dalam air mata taubatmu, dalam ketaatanmu yang tersembunyi, bukan dalam sorakan manusia atau kucuran harta duniawi.

Ingatlah selalu firman Allah yang menyejukkan hati:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Naḥl: 128)

 

Siberut, 5 Rabī’ul Awwal 1447

Abu Yahya Adiya