Menutup Pintu Percampurbauran antara Pria dan Wanita

Menutup Pintu Percampurbauran antara Pria dan Wanita

“Rasulullah ﷺ mengucapkan salam, lalu para wanita langsung beranjak pergi dan memasuki rumah-rumah mereka, sebelum Rasulullah ﷺ beranjak pergi.” (HR. Bukhari)

Demikianlah Ummu Salamah menjelaskan kebiasaan Nabi ﷺ usai salat berjamaah. Selesai salam, para wanita langsung pergi dari masjid sedangkan Nabi ﷺ duduk sejenak dan tidak langsung pergi. Kenapa demikian?

Imam Az-Zuhri berkata:

نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَيْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ، قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ

“Menurut kami–wallahu a’lam-beliau lakukan itu agar para wanita bisa segera pergi sebelum tersusul oleh seorang dari jamaah pria.” (Shahih Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan salah satu faidah dari hadis tadi:

وَكَرَاهَةُ مُخَالَطَةِ الرِّجَالِ لِلنِّسَاءِ فِي الطُّرُقَاتِ فَضْلًا عَنْ الْبُيُوتِ

“Dibencinya percampurbauran antara pria dan wanita di jalan-jalan apalagi di dalam rumah-rumah.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Ya, dibenci percampurbauran antara pria dan wanita di tempat terbuka, apalagi di tempat tertutup.

Setelah bercampur baur, tergeraklah untuk saling melempar pandangan.

Setelah saling melempar pandangan, tergeraklah untuk saling melempar senyuman.

Setelah saling melempar senyuman, tergeraklah untuk saling melempar perkataan.

Setelah saling melempar perkataan, tergeraklah untuk berduaan.

Setelah berduaan, tergeraklah untuk saling bersentuhan.

Setelah saling bersentuhan, tergeraklah untuk melakukan puncak kemungkaran.

“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Dalam ayat ini, Allah melarang segala sarana yang mengantarkan pada perzinaan. Karena itu, segala sarana yang mengantarkan pada perzinaan harus ditutup rapat dan jangan terbuka.

Imam Al-Mawardi berkata:

وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ:

“Sebagian orang bijak berkata:

إيَّاكَ وَمُخَالَطَةَ النِّسَاءِ فَإِنَّ لَحْظَ الْمَرْأَةِ سَهْمٌ، وَلَفْظَهَا سُمٌّ

“Hati-hatilah engkau dari bercampur baur dengan kaum wanita. Karena sesungguhnya memandang wanita adalah panah dan membicarakannya adalah racun.”

وَرَأَى بَعْضُ الْحُكَمَاءِ صَيَّادًا يُكَلِّمُ امْرَأَةً فَقَالَ:

Seorang bijak menyaksikan seorang pemburu mengajak bicara seorang wanita, maka ia berkata:

يَا صَيَّادُ، احْذَرْ أَنْ تُصَادَ

“Wahai pemburu, hati-hatilah jangan sampai engkau yang diburu!”

وَقَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُد عليهما السلام، لِابْنِهِ:

Sulaiman bin Daud alaihisalam berkata kepada putranya:

امْشِ وَرَاءَ الْأَسَدِ وَلَا تَمْشِ وَرَاءَ الْمَرْأَةِ

“Berjalanlah di belakang singa, dan jangan berjalan di belakang wanita!” (Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin)

Berjalan di belakang singa bisa merusak ragamu, sedangkan berjalan di belakang wanita bisa merusak hatimu.

Kerusakan hati lebih berbahaya daripada kerusakan raga. Kerusakan raga hanya membuatmu sengsara di dunia, sedangkan kerusakan hati bisa membuatmu sengsara di akhirat dan juga di dunia.

 

Siberut, 18 Sya’ban 1446
Abu Yahya Adiya