Menghindar dari Jabatan Hakim

Menghindar dari Jabatan Hakim

Lari meninggalkan kampung halaman karena takut ditunjuk sebagai hakim.

Itulah yang terjadi pada Abu Qilabah, seorang ulama besar tabiin dari kota Bashrah.

Tatkala hakim Bashrah, ‘Abdurrahman bin Udzainah meninggal dunia, penguasa Bashrah ketika itu hendak menunjuk dirinya sebagai hakim, maka ia pun meninggalkan Bashrah dan lari ke Syam.

Ayyub As-Sikhtiyani menemuinya lalu bertanya kepadanya tentang alasannya menghindar dari jabatan tersebut.

Abu Qilabah pun menjawab:

مَا وَجَدْتُ مَثَلَ القَاضِي العَالِمِ إِلاَّ مَثَلَ رَجُلٍ وَقَعَ فِي بَحْرٍ، فَمَا عَسَى أَنْ يَسْبَحَ حَتَّى يَغْرَقَ

“Aku tidak mendapati perumpamaan seorang hakim yang berilmu kecuali seperti seseorang yang jatuh ke laut. Bisa jadi ia tidak bisa berenang sehingga akhirnya tenggelam.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ketika seseorang menjadi hakim, ia telah berada di antara dua bahaya.

Di satu sisi, ada suap, sogokan, dan godaan duniawi yang bisa membahayakan keimanannya. Dan di sisi lain, ada berbagai ancaman dan intimidasi yang bisa membahayakan nyawanya.

Surga dan neraka ada di depan matanya!

Nabi ﷺ bersabda:

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ، اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga macam: dua di neraka dan satu di surga.

رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ

Seseorang yang mengetahui kebenaran kemudian ia memutuskan hukum dengan kebenaran tersebut, maka ia akan di surga.

وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ

Dan seseorang yang memutuskan hukum untuk manusia berdasarkan kebodohan, maka ia akan di neraka.

وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ

Dan seseorang yang zalim dalam memutuskan hukum, maka ia akan ada di neraka.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Karena beratnya resiko dan tanggung jawab seorang hakim, Abu Qilabah meninggalkan kampung halamannya lalu lari ke Syam dan berpindah-pindah tempat hingga akhirnya ia wafat di Arish Mesir dalam keadaan hilang penglihatannya, dan juga kedua tangannya serta kakinya.

Semoga Allah merahmatinya….

 

Siberut, 6 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya