Keledai Nabi ﷺ meronta-ronta dan hampir saja menjatuhkan beliau. Itulah yang terjadi ketika Nabi ﷺ sampai di area pekuburan Bani Najjar.
Beliau ﷺ pun bertanya:
مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ الْأَقْبُرِ؟
“Siapa yang tahu penghuni kuburan ini?”
Seorang pemuda menjawab:
أَنَا
“Aku.”
Lalu beliau ﷺ bertanya:
فَمَتَى مَاتَ هَؤُلَاءِ؟
“Kapan mereka meninggal?”
Pemuda itu menjawab:
مَاتُوا فِي الْإِشْرَاكِ
“Mereka seluruhnya meninggal di zaman kemusyrikan.”
Lalu beliau ﷺ bersabda:
إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا، لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ
“Sesungguhnya para penghuni kuburan ini sedang disiksa di kuburan mereka. Kalau saja kalian akan enggan menguburkan orang yang meninggal di antara kalian, tentu aku memohon kepada Allah agar membuat kalian bisa mendengar siksa kubur seperti yang kudengar.”
Lalu beliau ﷺ menghadapkan muka beliau kepada para sahabatnya lalu bersabda:
تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka!”
Mereka pun berkata:
نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Kami berlindung kepada Allah dari siksa api neraka.”
Kemudian beliau ﷺ bersabda:
تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur!”
Mereka pun berkata:
نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa siksa kubur itu benar adanya.
Para penghuni kubur benar-benar akan mendapat siksa atau nikmat di dalam kubur.
Dan itu telah ditunjukkan oleh banyak hadis, bahkan ditunjukkan pula oleh Al-Quran.
Allah menyebutkan keadaan Fir’aun:
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!” (QS. Ghafir: 45-46)
Di mana mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang?
Tentu saja itu di alam kubur. Bukan di alam akhirat.
Sebab, di akhirat mereka bukan cuma melihat neraka di pagi dan petang, bahkan mereka melihat neraka dan mendapat hukuman di dalamnya sepanjang masa!
Imam Ibnu Katsir berkata:
وَهَذِهِ الْآيَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي اسْتِدْلَالِ أَهْلِ السُّنَّةِ عَلَى عَذَابِ الْبَرْزَخِ فِي الْقُبُورِ
“Ayat ini adalah dalil agung bagi Ahlussunnah yang menyatakan adanya siksa di alam kubur.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Karena itu, siapa pun yang mati dan berhak mendapat hukuman, maka ia akan mendapat siksa kubur, walaupun ia tidak dikubur!
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
وَاعْلَمْ أَنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ هُوَ عَذَابُ الْبَرْزَخِ، فَكُلُّ مَنْ مَاتَ وَهُوَ مُسْتَحِقٌّ لِلْعَذَابِ نَالَه نَصِيبُه مِنْهُ، قُبِرَ أَوْ لَمْ يُقْبَرْ، أَكَلَتْه السِّبَاعُ أَوِ احْتَرَقَ حَتَّى صَارَ رَمَادًا وَنُسِفَ فِي الْهَوَاءِ، أَوْ صُلِبَ أَوْ غَرِقَ فِي الْبَحْرِ – وَصَلَ إِلَى رُوحِه وَبَدَنِه مِنَ الْعَذَابِ مَا يَصِلُ إِلَى الْمَقْبُورِ.
“Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam barzakh. Setiap orang yang mati dan pantas mendapat siksa, maka ia akan mendapatkan bagian dari siksa itu, baik ia dikubur maupun tidak. Baik ia dimakan oleh hewan buas maupun terbakar sampai menjadi abu dan diterbangkan di udara. Baik ia disalib maupun tenggelam di dalam laut. Siksa akan sampai pada roh dan badannya sebagaimana sampai kepada orang yang dikubur.” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Dalil yang menyebutkan tentang siksa kubur begitu banyak. Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk menolak siksa kubur. Dan tidak ada maaf bagi siapapun yang ‘mengubur’ siksa kubur.
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:
فالمقصود أن من أنكر عذاب القبر يستتاب، وإن تاب وإلا قتل كافرا، نسأل الله العافية.
“Maksudnya yaitu siapa yang mengingkari siksa kubur, maka ia diminta tobat. Jika mau bertobat, maka itu baik. Dan jika tidak, maka ia dihukum mati sebagai kafir. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” (Fatawa Nur ‘Alaa Ad-Darb)
Siberut, 6 Rajab 1442
Abu Yahya Adiya






