Dada dan wajah mereka sudah berdarah, tapi mereka terus mencakar dada dan wajah mereka dengan kuku mereka sendiri.
Nabi ﷺ terkejut. Beliau pun bertanya kepada Jibril:
مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ
“Siapakah mereka itu wahai Jibril?”
Jibril menjawab:
هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menjatuhkan kehormatan orang lain.” (HR. Abu Daud)
Itulah kejadian yang Nabi ﷺ saksikan ketika beliau diangkat ke langit dalam peristiwa Isra Mikraj.
Hadis ini menunjukkan terlarangnya perbuatan memakan daging manusia, yaitu gibah. Sebab, pelakunya akan disiksa dengan mencakar dada dan wajahnya sendiri.
Apa Itu Gibah?
Suatu hari Nabi ﷺ bertanya:
أَتَدْرُونَ مَا الغِيبةُ؟
“Apakah kalian tahu, apa itu gibah?”
Para sahabat menjawab:
اللَّه ورسُولُهُ أَعْلَمُ.
“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau ﷺ pun bersabda:
ذِكرُكَ أَخَاكَ بِما يكْرَهُ
“Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang tidak ia sukai.”
Beliau ﷺ ditanya:
أَفرأيْتَ إنْ كَانَ في أخِي مَا أَقُولُ؟
“Bagaimana kalau yang kukatakan benar-benar ada pada saudaraku itu?”
Beliau ﷺ menjawab:
إنْ كانَ فِيهِ مَا تقُولُ فَقَدِ اغْتَبْته، وإنْ لَمْ يكُن فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بهتَّهُ
“Kalau yang engkau katakan itu benar-benar ada pada dirinya, maka sungguh, engkau telah berbuat gibah kepadanya. Dan kalau yang engkau katakan itu tidak ada pada dirinya, maka sungguh, engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)
Berarti, kalau seseorang berkata, “Si fulan itu kasar kepada istrinya”, maka….
Kalau memang kenyataannya si fulan kasar kepada istrinya, berarti orang yang berkata itu sudah berbuat gibah. Namun, kalau kenyataannya si fulan tidak kasar kepada istrinya, berarti orang yang berkata itu sudah berbuat fitnah.
Gibah dan fitnah. Keduanya sama-sama dosa besar!
Kalau seseorang berkata, “Si fulanah itu tidak cantik”, maka….
Kalau memang kenyataannya si fulanah tidak cantik, berarti orang yang berkata itu sudah berbuat gibah. Namun, kalau kenyataannya ia cantik, berarti orang yang berkata itu sudah berbuat fitnah.
Gibah dan fitnah. Keduanya sama-sama dosa besar!
Akibat Gibah
Gibah adalah perbuatan dosa besar yang harus kita jauhi. Siapa yang terlanjur melakukan gibah, hendaknya ia bertobat. Kalau tidak, ia akan menyesal di akhirat.
Bagaimana tidak menyesal?
Amalannya akan diberikan kepada orang yang pernah jadi sasaran gibahnya. Makin sering ia melakukan gibah atau menggunjing orang lain, maka makin banyak pahalanya diberikan kepada orang lain.
Suatu hari Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabatnya:
أَتَدْرُون ما الْمُفْلِسُ؟
“Tahukah kalian siapakah orang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab:
الْمُفْلسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ
“Orang bangkrut di antara kami yaitu orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula harta benda.”
Beliau ﷺ berkata:
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقيامةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وزَكَاةٍ
“Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku, yaitu orang yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat.
ويأْتِي وقَدْ شَتَمَ هَذَا
Namun, ia telah mencela si ini,
وقذَف هذَا
Menuduh zina si itu,
وَأَكَلَ مالَ هَذَا
Memakan harta si ini,
وسفَكَ دَم هذَا
Menumpahkan darah si itu,
وَضَرَبَ هَذَا
Memukul si ini.
فيُعْطَى هذَا مِنْ حسَنَاتِهِ، وهَذا مِن حسَنَاتِهِ
Akhirnya beberapa pahalanya diberikan kepada si ini, dan beberapa pahalanya yang lain diberikan kepada si itu.
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَناتُه قَبْلَ أَنْ يقْضِيَ مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرحَتْ علَيْه، ثُمَّ طُرِح في النَّارِ
Kalau pahalanya sudah habis sebelum ditunaikan kewajibannya, maka diambillah beberapa dosa dari orang-orang yang ia zalimi lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia pun dimasukkan ke dalam neraka!” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahaya kezaliman. Sebab, siapa yang menzalimi orang lain entah dengan ucapannya maupun perbuatannya, maka pahalanya akan diberikan kepada orang yang pernah ia zalimi.
Makin banyak ia menzaliminya, maka makin banyak pahala yang ia berikan kepadanya.
Berarti, makin sering kita menggunjing orang lain, maka makin banyak pahala kita yang diberikan kepada orang lain.
Karena itu, kalau memang kita menyaksikan saudara kita bersalah, maka nasehatilah. Kalau tidak mau, maka diamlah. Jangan berbicara di belakang, supaya pahalamu tidak hilang!
Hadiah Untuk Pelaku Gibah
Kalau memang menggunjing dan gibah adalah dosa besar, maka jauhilah.
Sebaliknya, bagi siapa yang menjadi korban gunjingan, atau fitnah, maka bergembiralah.
Mengapa demikian?
Engkau mendapat transfer pahala dari orang yang menggunjingmu.
Engkau mendapat kiriman pahala dari orang yang memfitnahmu.
Ada seorang ulama salaf yang mendengar berita bahwa ada seseorang yang menggunjingnya.
Maka, ia pun segera mencari hadiah yang bagus untuk orang yang menggunjingnya. Lalu ia mendatangi orang yang menggunjingnya itu kemudian menyerahkan hadiah kepadanya.
Orang yang mendapat hadiah pun kebingungan. Ia bertanya apa sebabnya ia mendapat hadiah?
Maka ulama ini menjawab:
إن الرسول – صلى الله عليه وآله وسلم – قال: «مَنْ أتَى إليْكُمْ مَعْرُوفًا فَكافِئُوه» وإنك أهديت لي حسناتك، وليس عندي مكافأة لك إلا من الدنيا.
“Sesungguhnya Rasul ﷺ telah bersabda, ‘Siapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikannya itu’, dan engkau telah menghadiahkan pahalamu kepadaku, dan aku tidak bisa membalas kebaikanmu itu kecuali dengan hadiah duniawi!” (Dalil Al-Wa’izh Ilaa Adillah Al-Mawa’izh)
Siberut, 22 Rabi’ul Tsani 1442
Abu Yahya Adiya






