Nasihat Berharga dari Nabi Daud

Nasihat Berharga dari Nabi Daud

Nabi Daud ﷺ pernah memberikan nasihat yang berharga. Beliau ﷺ bersabda:

‌كُنَّ ‌لِلْيَتِيمِ كَالْأَبِ الرَّحِيمِ وَاعْلَمْ أَنَّكَ كَمَا تَزْرَعُ كَذَلِكَ تَحْصُدُ، مَا أَقْبَحَ الْفَقْرَ بَعْدَ الْغِنَى، وَأَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ أَوْ أَقْبَحُ مِنْ ذَلِكَ الضلالةُ بَعْدَ الهُدى، وَإِذَا وعدتَ صاحِبَك فَأَنْجِزْ لَهُ مَا وعدتَّهُ. فَإِنْ لَا تَفْعل يُؤرِثُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ، وَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ صَاحِبٍ إِنْ ذكرتَ لَمْ يُعِنْك وَإِنْ نسيتَ لَمْ يُذَكِّرك

“Jadilah engkau bagi anak yatim seperti seorang ayah yang penyayang. Ketahuilah, sebagaimana engkau menanam, maka demikian pula engkau akan menuai. Alangkah buruknya kefakiran setelah kaya! Lebih parah dari itu atau lebih buruk lagi dari itu yaitu kesesatan setelah mendapat petunjuk. Bila engkau berjanji kepada temanmu, maka penuhilah janjimu. Kalau engkau tidak melakukannya, maka akan muncullah permusuhan antara dirimu dan dirinya. Berlindunglah kepada Allah dari teman yang jika engkau ingat, ia tidak membantumu, dan jika engkau lupa, ia tidak mengingatkanmu.” (Al-Adab Al-Mufrad)

 

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari nasihat Nabi Daud ﷺ ini:

 

  1. Hendaknya kita menyayangi anak yatim. Sebagaimana perkataan Nabi Daud ﷺ tadi: “Jadilah engkau bagi anak yatim seperti seorang ayah yang penyayang.”

Seorang ayah yang sehat dan waras tentu saja menyayangi anaknya dan tidak mungkin menelantarkannya. Maka hendaknya demikian pula sikap kita terhadap anak yatim. Hendaknya kita menyayanginya dan tidak menelantarkannya.

Sayangilah anak yatim, niscaya kebaikanmu tak akan sia-sia. Allah akan membalasnya, baik cepat maupun lambat. Karena itu Nabi Daud ﷺ berkata dalam nasihatnya tadi: “Ketahuilah, sebagaimana engkau menanam, maka demikian pula engkau akan menuai.”

 

  1. Seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatannya. Sebagaimana perkataan Nabi Daud ﷺ tadi: “Ketahuilah, sebagaimana engkau menanam, maka demikian pula engkau akan menuai.”

Kita akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan kita. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, tentu berbeda nasibnya dengan orang yang bermalas-malasan dalam beribadah kepada-Nya, apalagi tidak mau beribadah kepada-Nya.

Siapa yang berbuat baik kepada banyak orang tentu berbeda nasibnya dengan orang yang berbuat baik hanya kepada segelintir orang, apalagi tidak mau berbuat baik sama sekali kepada orang lain.

 

  1. Buruknya keadaan orang yang tersesat setelah mendapatkan hidayah. Sebagaimana perkataan Nabi Daud ﷺ tadi: “Alangkah buruknya kefakiran setelah kaya! Lebih parah dari itu atau lebih buruk lagi dari itu yaitu kesesatan setelah mendapat petunjuk.”

Ketika seseorang yang kaya raya jatuh miskin, biasanya ia merasa terpuruk dan menderita. Bagaimana tidak terpuruk dan menderita, ia kehilangan ‘segala-galanya’. Maka apalagi orang yang tersesat setelah mendapatkan hidayah. Cahaya hidayah sebelumnya ada di depan matanya dan menerangi jalannya. Namun, cahaya itu sekarang padam sehingga akhirnya ia berjalan dalam kebingungan dan kecemasan.

 

  1. Perintah untuk menunaikan janji. Sebagaimana perkataan Nabi Daud ﷺ tadi: “Bila engkau berjanji kepada temanmu, maka penuhilah janjimu.”

Beliau menegaskan pentingnya menunaikan itu dengan mengatakan, “Kalau engkau tidak melakukannya, maka akan muncullah permusuhan antara dirimu dan dirinya.”

Ya, bagaimana tidak akan muncul permusuhan, itu sifat khas orang yang bejat dan dibenci oleh siapa pun yang berhati sehat.

“Tanda-tanda seorang munafik ada tiga: jika berbicara, ia dusta. Jika berjanji, ia tidak menepati. Dan jika diberi amanat, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Perintah untuk mencari teman yang baik. Sebagaimana perkataan Nabi Daud ﷺ tadi: “Berlindunglah kepada Allah dari teman yang jika engkau ingat, ia tidak membantumu, dan jika engkau lupa, ia tidak mengingatkanmu.”

Maka, carilah teman baik. Teman yang mengingatkan kita agar menjadi orang yang baik. Teman yang menyadarkan kita ketika salah dan membantu kita ketika benar.

Jangan sembarangan mencari teman. Sebab, temanmu adalah ‘surga’mu atau ‘neraka’mu.

Nabi ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ ‌عَلَى ‌دِينِ ‌خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Seseorang itu berdasarkan agama temannya. Karena itu, hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapakah yang menjadi temannya?” (HR. Ahmad)

 

Siberut, 4 Syawwal 1446

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Syekh Husen bin ‘Audah Al-‘Awayisyah.