Orang yang Berani dan Dermawan

Orang yang Berani dan Dermawan

“Siapa orang yang sangat berani?”

Itulah pertanyaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan kepada ‘Amru bin Al-Ahtam.

‘Amru pun menjawab:

مَنْ رَدَّ جَهْلَهُ بِحِلْمِهِ

“Orang yang menolak kebodohannya dengan kebijakannya.”

Mu’awiyah kembali bertanya:

أَيُّ الرِّجَالِ أَسْخَى

“Siapakah orang yang sangat dermawan?”

‘Amru pun menjawab:

من بذل دنياه لصلاح دينه

“Orang yang mencurahkan dunianya untuk kebaikan agamanya.” (Ihya ‘Ulum Ad-Diin)

Jika amarah muncul pada seseorang lalu ia memelototkan matanya, meninggikan suaranya, mengeluarkan kata-kata kotor, dan memukulkan tangannya ke sana kemari, maka itu bukanlah tindakan seorang yang ksatria dan pemberani. Itu tindakan bodoh dan tidak terpuji.

Orang yang kuat dan berani adalah orang yang ketika marah, ia mampu mengendalikan diri. Ia berusaha menundukkan kebodohannya dengan kebijakannya.

Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari)

Adapun orang yang dermawan, maka ia bukanlah orang yang royal mengeluarkan hartanya untuk kepentingan dunianya, melainkan orang yang royal mengeluarkan hartanya untuk kepentingan agamanya.

Sebab, orang yang memberi karena kepentingan dunia, sebenarnya ia royal karena ingin “balik modal”. Berbeda halnya dengan orang yang memberi karena kepentingan agama, ia banyak memberi, tapi tak harap kembali.

Allah menyebutkan perkataan para penghuni surga:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah karena mengharap keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

 

Siberut, 25 Sya’ban 1446

Abu Yahya Adiya