Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa.’ Siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal saleh dan janganlah menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Hendaknya ia mengerjakan amal saleh yaitu:
وهو الموافق لشرع الله، من واجب ومستحب
“Yang sesuai dengan syariat Allah, berupa kewajiban atau anjuran.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Jangan menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya yaitu:
أي: لا يرائي بعمله بل يعمله خالصا لوجه الله تعالى
“Jangan riya (pamer) dengan amalannya. Bahkan hendaknya ia melakukannya karena ikhlas mengharap wajah Allah.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia, bukan roh dan bukan pula cahaya saja sebagaimana yang diyakini oleh kelompok batiniyah. Beliau juga tidak mempunyai sifat ketuhanan sebagaimana yang diyakini oleh sebagian kelompok sufi.
- Seorang nabi bukanlah manusia biasa, melainkan manusia istimewa karena mendapatkan wahyu.
- Penetapan keesaan Allah.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فإذا ثبت ذلك; فإنه لا يليق بك أن تشرك معه غيره في العبادة التي هي خالص حقه
“Jika telah tetap demikian, maka tidak pantas engkau menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam hal ibadah yang merupakan murni hak-Nya.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
- Adanya pertemuan dengan Allah di hari kiamat. Dan pertemuan di sini maksudnya pertemuan yang penuh dengan keridaan dan kenikmatan.
- Allah akan dilihat di hari kiamat. Dan itulah keyakinan Ahlusssunnah wal Jama’
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وتتضمن رؤيته تبارك وتعالى، كما ذكر ذلك بعض أهل العلم
“Dan pertemuan ini mengandung makna terlihatnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sebagaimana itu disebutkan oleh sebagian ulama.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
- Riya adalah syirik. Sebab, disebutkan dalam ayat tadi: “Janganlah menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Dan itu dikuatkan oleh sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terjadi pada kalian yaitu syirik kecil!”
Para sahabat bertanya:
وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟
“Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ menjawab:
الرِّيَاءُ
“Yaitu riya.” (HR. Ahmad)
- Syarat diterimanya amalan adalah ikhlash dan itiba‘ (mengikuti tuntutan Nabi ﷺ)
Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:
فهذا الذي جمع بين الإخلاص والمتابعة، هو الذي ينال ما يرجو ويطلب، وأما من عدا ذلك، فإنه خاسر في دنياه وأخراه، وقد فاته القرب من مولاه، ونيل رضاه
“Orang yang menggabungkan antara ikhlas dan ittiba‘ inilah orang yang bisa meraih apa yang ia harapkan dan ia cari. Adapun orang yang tidak demikian, maka ia rugi di dunianya dan akhiratnya. Dan benar-benar luputlah darinya kedekatan dengan Tuhannya dan meraih keridaan-Nya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Jakarta, 23 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Aisar At-Tafasir Likalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
- Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di.






