2 Kekafiran Yang Bertahan Hingga Saat Ini

Nabi ﷺ bersabda:

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua-duanya merupakan bentuk kekafiran: mencela keturunan dan meratapi orang mati.” (HR. Muslim)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Diharamkan mencela keturunan orang lain.

Menghina keturunan orang lain seperti dengan mengatakan: “Kamu ini anak pelacur!” “Ingat, kamu ini keturunan babu!” dan ungkapan yang semacamnya.

Padahal, kemuliaan yang hakiki bukan diukur dari fisik, keturunan, dan kekayaan, melainkan dari ketakwaan.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

 

  1. Diharamkan meratapi orang mati

Meratapi orang mati adalah perbuatan yang sangat diharamkan dalam Islam. Saking haramnya perbuatan tersebut, sampai-sampai Nabi ﷺ berlepas diri dari pelakunya.

Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُود وَشَقَّ الْجُيُوب وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul pipi, merobek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu hari Abu Musa Al-Asy’ari sakit keras hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman ia berkata:

أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَرِئَ مِنْ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ

“Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah ﷺ pun berlepas diri darinya. Sungguh, Rasulullah ﷺ berlepas diri dari orang yang meraung-raung, mencukur rambutnya, dan merobek bajunya tatkala tertimpa musibah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan terlarangnya meratapi orang mati. Sebab, dengan melakukan perbuatan tersebut, baik disadari maupun tidak, pelakunya sudah memprotes takdir Allah dan menggugat keputusan Allah terhadap dirinya.

Seakan-akan ia berkata:

“Ya Allah, kenapa Engkau mengambil orang yang kusayangi?!”

“Ya Allah, kenapa tega-teganya Engkau membiarkanku terlantar seperti ini?!”

Ia telah memprotes takdir Allah terhadap dirinya.

Ia telah menggugat keputusan Allah terhadap dirinya.

Ia tidak mau rida dan bersabar menghadapi keputusan Allah terhadap dirinya.

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan siksa kepadanya di dunia. Dan jika Dia menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Dia akan menangguhkan siksa itu hingga Dia memberikan itu kepadanya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Mana yang lebih ringan, bencana di dunia atau bencana di akhirat?

Dan kalau kita harus memilih, mana yang kita pilih, mendapat bencana di dunia atau bencana di akhirat?

 

  1. Keutamaan bersabar dalam menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.

Orang yang bersabar dalam menghadapi musibah, bencana, cobaan dan takdir Allah yang menyakitkan akan Allah ridai dan Dia cintai.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali-‘Imran: 146)

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bencana. Dan sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan kepada mereka ujian. Siapa yang rida terhadap ujian tersebut, baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Kalau memang sesesorang ingin dicintai Allah, maka hendaknya ia bersabar.

Dan ia tidak akan dianggap bersabar kalau masih berkeluh kesah terhadap musibah.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ بَثَّ فَلَمْ يَصْبِرْ

“Siapa yang berkeluh kesah, berarti ia tidak bersabar.” (Syu’abul Iman)

Suatu hari Fudhail bin ‘Iyadh melihat seseorang berkeluh kesah. Ia mengeluhkan musibah yang menimpa dirinya kepada orang lain. Maka Fudhail pun berkata kepadanya:

يَا هَذَا! تَشْكُو مَنْ يَرْحَمُكَ إِلَى مَنْ لاَ يَرْحَمُكَ؟!

“Wahai fulan! Engkau mengadukan Tuhan yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu?!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ya, apakah kita akan mengadukan keputusan Allah yang amat menyayangi kita kepada orang yang tidak menyayangi kita?

Apakah itu sikap seorang hamba kepada Tuhannya?

Apakah itu sikap seorang hamba kepada Tuhannya yang telah banyak memberikan nikmat kepadanya?

Hentikanlah keluh kesahmu. Adukanlah kesedihanmu dan penderitaanmu hanya kepada-Nya dan jangan adukan kesedihanmu dan penderitaanmu kepada selain-Nya.

Syaqiq Al-Balkhi berkata:

من شكا مصيبة إلى غير الله لم يجد حلاوة الطاعة

“Siapa yang mengadukan musibah kepada selain Allah, niscaya ia tidak akan merasakan manisnya ketaatan.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ucapkanlah perkataan seperti yang diucapkan oleh Nabi Ya’qub tatkala kehilangan putra yang amat ia cintai:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Jakarta, 21 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Siyar A’lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi.