Penasihat vs Penjilat

Penasihat vs Penjilat

“Pemimpin syuhada yaitu Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan orang yang mendatangi pemimpin yang zalim lalu mengarahkannya untuk melakukan kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran kemudian pemimpin itu menghabisinya.” (HR. Al-Hakim)

Demikianlah nabi kita ﷺ bersabda.

Syuhada adalah orang-orang yang istimewa. Dan pemimpin mereka, tentu lebih istimewa lagi.

Selain Hamzah, pemimpin syuhada adalah orang yang mendatangi penguasa yang zalim untuk menyampaikan kebenaran di hadapannya lalu karena itu hilanglah nyawanya.

Itulah sebaik-baik orang yang mati syahid. Sebab ia telah melakukan sebaik-baik perbuatan.

Seseorang pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:

أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟

“Jihad apakah yang paling utama?”

Beliau ﷺ pun bersabda:

كَلِمَةُ حقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جائِر

“Berkata benar di hadapan pemimpin yang zalim.” (HR. An-Nasai)

Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim. Ya, di hadapan pemimpin yang zalim. Di hadapannya. Bukan di belakangnya!

Itulah yang seharusnya dilakukan seorang muslim sejati terhadap pemimpinnya. Ia menasihati pemimpinnya dan menyampaikan kebenaran di hadapannya. Bukan malah menjilatnya!

Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

رُبَّمَا دَخَلَ الْعَالَمُ عَلَى السُّلْطَانِ وَمَعَهُ دِينُهُ فَيَخْرُجُ وَمَا مَعَهُ مِنْهُ شَيْءٌ

“Bisa jadi seorang alim menemui penguasa dalam keadaan membawa agamanya, lalu ia keluar darinya dalam keadaan tidak membawa sedikit pun agamanya.”

Orang-orang bertanya:

كَيْفَ ذَلِكَ

“Bagaimana bisa begitu?”

Fudhail menjawab:

يَمْدَحُهُ فِي وَجْهِهِ وَيُصَدِّقُهُ فِي كَذِبِهِ

“Ia memuji penguasa di hadapannya dan membenarkan kedustaannya.” (At-Tamhid)

Hendaknya seorang muslim di hadapan pemimpinnya menjadi penasehat bukan penjilat!

 

Siberut, 13 Rabi’ul Awwal 1445

Abu Yahya Adiya