Siapa yang tak kenal ‘Ashim bin Abi An-Nujud?
Ia adalah seorang ulama di bidang qiraat Al-Quran yang sangat terkenal.
Al-Mubarak bin Sa’id berkata:
رَأَيتُ عَاصِمَ بنَ أَبِي النَّجُوْدِ يَجِيْءُ إِلَى سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، يَسْتَفْتِيْهِ، وَيَقُوْلُ:
“Aku melihat ‘Ashim bin Abi An-Nujud mendatangi Sufyan Ats-Tsauri untuk meminta fatwa kepadanya dan ia berkata:
يَا سُفْيَانُ! أَتَيْتَنَا صَغِيْراً، وَأَتَيْنَاكَ كَبِيْراً.
“Wahai Sufyan! Engkau mendatangi kami ketika engkau masih kecil dan kami mendatangimu ketika engkau sudah besar.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari riwayat ini?
1. Adakalanya seorang murid bisa mengungguli gurunya dalam hal keilmuan.
Seperti yang terjadi pada ‘Ashim bin Abi An-Nujud dan Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar kota Kufah yang terkenal dan disepakati keilmuannya.
Ketika masih kecil, Sufyan Ats-Tsauri berguru kepada ‘Ashim bin Abi An-Nujud. Namun, ketika ia sudah dewasa, ‘Ashim bin Abi An-Nujudlah yang berguru kepadanya.
Itu menunjukkan bahwa mungkin saja seorang murid mengungguli gurunya dalam hal keilmuan.
2. Hendaknya seseorang tidak gengsi atau malu untuk belajar kepada orang yang lebih muda darinya atau orang yang pernah menimba ilmu darinya.
Seperti yang dicontohkan oleh ‘Ashim bin Abi An-Nujud. Dengan statusnya sebagai ulama ahli qiraat Al-Quran yang terkenal, ia tidak gengsi berguru kepada orang yang lebih muda darinya yang notabene adalah muridnya.
Itu menunjukkan bahwa ia merupakan sosok yang rendah hati. Selain itu, ia mengajarkan bahwa ilmu tidak bisa diraih dengan gengsi!
Imam Mujahid berkata:
لاَ يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ
“Tidak akan bisa mempelajari ilmu orang yang pemalu dan tidak pula orang yang sombong.” (Shahih Bukhari)
Siberut, 17 Rabi’ul Awwal 1445
Abu Yahya Adiya






