Perlukah Mengasingkan Diri di Zaman Ini?

Perlukah Mengasingkan Diri di Zaman Ini?

Apa perasaan kita ketika melihat syirik merajalela di sekitar kita, tapi kita tidak berdaya mengingkarinya?

Apa perasaan kita ketika melihat bidah tersebar di sekeliling kita, tapi kita tidak sanggup mengingkarinya?

Apa perasaan kita ketika melihat maksiat bertebaran di seputar kita, tapi kita tidak mampu menghilangkannya?

Nabi ﷺ bersabda:

يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

“Hampir saja terjadi masa di mana harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang ia gembalakan di puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan, ia lari membawa agamanya karena takut terkena fitnah.” (HR. Bukhari)

Imam Al-Khaththabi berkata:

وفيه الحث على العزلة أيام الفتن

“Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk mengasingkan diri di zaman penuh fitnah.” (Ma’alim As-Sunan)

Fitnah apa yang dimaksud?

Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

بَلْ أَرَادَ بِقَوْلِهِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ جَمِيعَ أَنْوَاعِ الْفِتَنِ

“Yang dimaksud dengan sabda beliau ‘lari membawa agamanya karena takut terkena fitnah’ yakni segala macam fitnah.” (At-Tamhid)

Ya, segala macam fitnah. Baik itu fitnah agama, fitnah harta, fitnah tahta, maupun fitnah wanita dan berbagai fitnah dunia lainnya.

Imam Ibnu Baththal berkata:

وفيه أن اعتزال الناس عند الفتن والهرب عنهم أفضل من مخالطتهم وأسلم للدين

“Dalam hadis ini terdapat keterangan bahwa mengasingkan diri dari masyarakat tatkala terjadi fitnah dan pergi dari mereka itu lebih utama daripada berbaur dengan mereka dan itu lebih selamat bagi agama seseorang.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)

Siapa yang hidup di zaman penuh fitnah dan ia memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menghilangkan fitnah, maka ia wajib berusaha untuk menghilangkannya.

Imam Al-‘Aini berkata:

إِمَّا فرض عين وَإِمَّا فرض كِفَايَة بِحَسب الْحَال والإمكان

“Wajib di sini bisa jadi fardu ain atau fardhu kifayah tergantung keadaan dan kemampuan.” (‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Namun, kalau seseorang tidak sanggup menghilangkan fitnah yang ada di depan matanya, malah ia merasa akan terpengaruh olehnya, bahkan terjatuh kepadanya, maka….

Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) berkata:

وَاَلَّذِي لَا إلَهَ إلَّا هُوَ لَقَدْ حَلَّتْ الْعُزْلَةُ

“Demi Tuhan yang tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, sungguh, telah boleh mengasingkan diri saat ini.” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa)

Kalau ini dikatakan beliau padahal beliau hidup di masa generasi emas (yakni tabiit tabiin), maka bagaimana pula kalau beliau menyaksikan keadaan di zaman sepeninggal beliau?

Imam Ibnu ‘Abdil Barr (wafat 463 H) menjelaskan hadis tentang mengasingkan diri tadi:

وَفِي ذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ الْعُزْلَةِ وَالِانْفِرَادِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ كَزَمَانِنَا هَذَا

“Dalam hadis itu terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan mengasingkan diri dan menyendiri di akhir zaman, seperti zaman kita ini.” (At-Tamhid)

Kalau ini dikatakan oleh ulama yang hidup di masa para ulama Ahlussunah masih bertebaran di mana-mana, maka bagaimana pula kalau beliau menyaksikan keadaan di zaman sepeninggal beliau?

Imam Al-Kirmaniy (wafat 786 H) berkata:

الْمُخْتَار فِي عصرنا تَفْضِيل الانعزال لندور خلو المحافل عَن الْمعاصِي.

“Pendapat yang terpilih di zaman kita yaitu diutamakannya mengasingkan diri karena jarangnya tempat yang kosong dari maksiat.” (‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Setelah membawakan perkataan Imam Al-Kirmani ini, Imam Al-‘Aini (wafat 855 H) berkata:

قلت: أَنا مُوَافق لَهُ فِيمَا قَالَ، فَإِن الِاخْتِلَاط مَعَ النَّاس فِي هَذَا الزَّمَان لَا يجلب إِلَّا الشرور.

“Aku katakan bahwa aku sependapat dengan apa yang beliau katakan. Karena, berbaur dengan masyarakat di zaman sekarang ini hanya membawa keburukan.” (‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Jika itu dikatakan oleh dua ulama yang hidup sekitar 6 abad yang lalu, maka bagaimana pula kalau keduanya hidup di abad ini dan menyaksikan keadaan di zaman ini?

 

Siberut, 24 Shafar 1444

Abu Yahya Adiya