Pria Penghuni Surga

Pria Penghuni Surga

“Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang pria penghuni surga!”

Itulah yang dikatakan oleh Nabi ﷺ suatu hari tatkala sedang duduk bersama para sahabatnya.

Mendengar itu para sahabat menjadi penasaran. Mereka menunggu-nunggu siapa pria yang dikatakan oleh Nabi ﷺ sebagai penghuni surga itu?

Tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang pria Anshar dalam keadaan jenggotnya basah karena air wudu dan ia menenteng kedua sendalnya dengan tangan kirinya.

Keesokan harinya, tatkala Nabi ﷺ sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, beliau kembali bersabda seperti sebelumnya:

يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang pria penghuni surga!”

Mendengar itu para sahabat kembali penasaran. Mereka pun menunggu-nunggu siapa pria yang dikatakan oleh Nabi ﷺ sebagai penghuni surga itu?

Tiba-tiba muncul kembali di hadapan mereka seorang pria Anshar yang datang pada hari sebelumnya.

Dan keesokan harinya, Nabi ﷺ kembali bersabda seperti sebelumnya:

يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang pria penghuni surga!”

Dan yang kembali muncul adalah pria Anshar yang sudah datang dua kali itu.

Mendengar kabar Nabi ﷺ demikian, ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash menjadi benar-benar penasaran.

Ia berpikir, apa yang menyebabkan pria Anshar tadi dipastikan sebagai penghuni surga?

Amalan apa yang ia lakukan selama ini sehingga ia pantas menghuni surga?

Tatkala Nabi ﷺ beranjak pergi meninggalkan para sahabatnya, ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash pun segera membuntuti pria Anshar itu.

Ia meminta izin kepada pria Anshar itu untuk menginap di rumahnya selama 3 hari. Pria itu pun mengizinkannya.

Selama di rumah pria itu, ‘Abdullah memerhatikan gerak-gerik pria itu.

Apa saja amal saleh yang ia lakukan selama ini?

Apakah ia selalu membaca Al-Quran? Ternyata tidak.

Apakah ia selalu melaksanakan salat malam? Ternyata tidak.

‘Abdullah tidak melihat pria itu melaksanakan sedikit pun salat malam. Hanya saja, ia melihat pria itu jika bangun tidur, ia berdoa dan berzikir sampai ia menunaikan salat subuh.

Selama tinggal di rumah pria itu, ‘Abdullah tidak melihat pria itu melakukan amalan yang terlihat istimewa atau luar biasa. ‘Abdulllah berkata:

غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا

“Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya mengucapkan perkataan kecuali perkataan yang baik.”

Akhirnya berlalulah 3 hari. Maka, berakhir pula waktu bagi ‘Abdullah untuk tinggal di rumah pria Anshar tadi. Namun, setelah 3 hari lamanya belum juga terlihat sesuatu yang istimewa dan luar biasa dari pria itu.

‘Abdullah pun berkata kepada pria Anshar itu:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tiga kali tentang dirimu: ‘Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang pria penghuni surga!’ Lalu ternyata yang muncul adalah dirimu sebanyak tiga kali. Dan aku tinggal bersamamu untuk melihat amalanmu sehingga aku bisa mengikutinya. Namun, aku tidak melihatmu melakukan amalan yang banyak. Lantas apa yang menyebabkanmu sampai mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah?”

Pria itu menjawab:

مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ.

“Tidak ada yang kulakukan kecuali apa yang kau lihat.”

Mendengar jawaban seperti itu ‘Abdullah pun pamit pulang. Tatkala ia sudah berjalan pulang, pria itu memanggil ‘Abdullah kemudian berkata:

مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

“Tidak ada yang kulakukan kecuali apa yang kau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah menipu seorang muslim pun dan aku tidak pernah dengki kepada seorang muslim pun atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.”

Setelah mendengar jawaban pria itu, ‘Abdullah pun berkata:

هَذِه الَّتِي بلغت بك وَهِي الَّتِي لَا نطيق

“Perbuatanmu inilah yang tidak kami sanggupi!” (HR. Ahmad)

Inilah keutamaan orang yang berhati bersih.

Orang yang berhati bersih tidak akan menipu atau melakukan kezaliman apa pun kepada saudaranya seiman.

Orang yang berhati bersih tidak akan iri, dengki, dan dendam kepada saudaranya seislam.

Apakah itu mudah?

Tentu saja tidak!

Makanya wajarlah kalau balasannya pun luar biasa, yakni surga!

 

Siberut, 8 Syawwal 1443

Abu Yahya Adiya