Untuk melepaskan penat mereka berbicang-bincang. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata:
مَا رَأَيْتُ مِثْلَ قُرائنا هَؤُلَاءِ، أرغبَ بُطُونًا، وَلَا أكذبَ أَلْسُنًا، وَلَا أَجْبَنَ عِنْدَ اللِّقَاءِ
“Belum pernah kulihat orang seperti para qari kita ini, amat rakus makannya, sangat dusta pembicaraannya, dan benar-benar pengecut dalam peperangan.”
Tiba-tiba ada yang menimpalinya dengan penuh kemarahan:
كذبتَ، وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ. لَأُخْبِرَنَّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
“Dusta! Engkau ini seorang munafik! Akan kuberitahukan ini kepada Rasulullah ﷺ.”
Siapa mereka berdua? Apa yang mereka ributkan?
Keduanya merupakan bagian dari rombongan yang berjihad bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Tabuk. Lantas siapa yang diejek oleh pria yang pertama?
Ia mengejek para sahabat Nabi ﷺ yang ahli baca Al-Quran.
Karena itulah pria yang kedua menjadi berang, lalu mengancam akan melaporkan ucapannya itu kepada Rasulullah ﷺ. Lantas, apakah ia melaporkannya?
Akhirnya ia melaporkannya. Namun, belum sampai ia di hadapan Rasulullah ﷺ, ternyata wahyu telah turun mendahuluinya.
Allah menurunkan firman-Nya:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
“Dan jika kalian tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian perolok-olok?’ Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kalian, niscaya Kami akan menyiksa golongan (lain), karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah: 65-66)
Akhirnya datanglah pria pertama tadi kepada Rasulullah ﷺ, sedangkan beliau ﷺ sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya.
Ia berkata sambil memegang sabuk pelana unta Rasulullah ﷺ, sementara kedua kakinya tersandung-sandung batu:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
“Ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Rasulullah ﷺ mengucapkan ayat:
أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian perolok-olok?”
Beliau tidak menengoknya, dan hanya mengatakan perkataan tadi kepadanya. (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
1. Kedustaan itu harus diingkari, bagaimana pun bentuknya.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وفي ذلك دليل على تكذيب الكذب مهما كان الأمر، وأن السكوت عليه لا يجوز.
“Dalam perkataan sahabat tadi (yaitu engkau dusta) terdapat dalil yang menunjukkan pendustaan terhadap kedustaan bagaimana pun perkaranya. Dan diam dalam hal itu tidak diperbolehkan.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
2. Melaporkan perbuatan pelaku maksiat kepada penguasa, agar menyadarkan mereka bukan termasuk gibah dan mengadu domba.
3. Ada uzur yang tidak pantas diterima.
4. Siapa yang mencela para sahabat Nabi ﷺ, maka ia kafir. Sebab, celaan terhadap mereka sama saja dengan celaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan syariat-Nya.
Itu celaan terhadap Allah. Karena, bagaimana bisa Dia memilih untuk rasul-Nya para pendamping yang buruk?!
Itu celaan terhadap Rasul-Nya. Karena, mereka adalah para pendamping beliau di masa hidupnya. Bagaimana bisa beliau memilih pendamping-pendamping yang buruk?!
Dan itu celaan terhadap syariat-Nya. Karena, melalui merekalah syariat Allah sampai kepada kita. Bagaimana bisa orang-orang buruk menjadi perantara sampainya syariat-Nya kepada kita?!
5. Siapa yang menghina ajaran Islam, baik yang ada dalam kitab-Nya, dan sunah rasul-Nya, maka ia telah kafir dan keluar dari Islam, walaupun dengan alasan bercanda.
Jika orang yang pernah berjihad bersama nabi-Nya ﷺ saja, bisa keluar Islam karena ucapan yang keluar dari lisannya, lantas bagaimana pula dengan orang yang tidak pernah berjuang sama sekali bersama nabi-Nya?!
Kalau orang yang pernah melaksanakan salat di belakang Nabi ﷺ saja bisa murtad karena ucapannya, lalu bagaimana pula dengan orang yang salatnya sering bolong-bolong dan kerap bermaksiat?!
Jika melecehkan agama dalam keadaan bergurau saja menyebabkan kemurtadan, lantas bagaimana pula jika melecehkannya dalam keadaan serius dan tidak bergurau?!
Maka, alangkah buruknya perkataan orang-orang yang melecehkan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.
Alangkah buruknya perkataan mereka. Alangkah bejatnya ucapan mereka.
Dan buruknya ucapan mereka menunjukkan buruknya hati dan batin mereka.
Sebab, seandainya dalam hati mereka ada pengagungan terhadap-Nya, tentu tak mungkin mereka berani mengolok-olok dan melecehkan agama serta syiar-syiar-Nya.
Allah berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Siberut, 20 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






