Allah berfirman:
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ
“Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, ‘Teruskanlah ejekan-ejekan kalian!’. Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kalian takuti itu.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
Dan jika kalian tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian perolok-olok?’ Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kalian, niscaya Kami akan menyiksa golongan (lain), karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah, 64 – 66)
Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kalian takuti itu maksudnya:
يهددهم تعالى بأن الله مخرج ما يحذرون إخراجه وظهوره مما يقولونه في خلواتهم من الطعن في الإسلام وأهله
“Allah mengancam mereka bahwa Dia akan mengungkapkan apa yang mereka khawatirkan akan dipaparkan dan akan tampak yaitu celaan mereka terhadap Islam dan pemeluknya yang mereka ucapkan dalam keadaan tersembunyi.” (Aisar At-Tafaasiir Min Kalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir)
Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja artinya:
أي نخوض في الحديث على عادتنا ونلعب لا نريد سباً ولا طعناً
“Kami bergurau dan bermain-main dalam berbicara seperti kebiasaan kami dan kami tidak bermaksud mencela dan menghina.” (Aisar At-Tafaasiir Min Kalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir)
Jika Kami memaafkan sebagian dari kalian yaitu:
بِإِخْلَاصِهَا وَتَوْبَتهَا
“Karena keikhlasan mereka dan tobat mereka.” (Tafsir Jalalain)
Kami akan menyiksa golongan (lain), karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa artinya
مُصِرِّينَ عَلَى النِّفَاق وَالِاسْتِهْزَاء
“Mereka terus dalam kemunafikan dan terus memperolok-olok.” (Tafsir Jalalain)
Faidah yang bisa kita petik dari 3 ayat tadi:
- Di antara kebiasaan orang munafik adalah mengejek ajaran Islam.
Sebagaimana Allah sebutkan dalam ayat di atas, dan sebagaimana Allah sebutkan dalam ayat lain:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14)
- Seorang munafik hidup dalam kegelisahan dan keresahan. Sebab, ia khawatir kebobrokan hatinya terbongkar oleh orang lain.
- Siapa yang menyembunyikan makar terhadap agama Allah dan memperolok-oloknya, maka Allah akan menampakkannya dan mempermalukan pelakunya.
- Siapa yang menghina ajaran Islam, baik yang ada dalam kitab-Nya, dan sunah rasul-Nya, maka ia telah kafir dan keluar dari Islam, walaupun dengan alasan bercanda.
Syekh As-Sa’di berkata:
فإن الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفر مخرج عن الدين
“Sesungguhnya memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama.
لأن أصل الدين مبني على تعظيم الله وتعظيم دينه ورسله والاستهزاء بشيء من ذلك مناف لهذا الأصل ومناقض له أشد المناقضة
Sebab, pokok dari agama dibangun berdasarkan pengagungan terhadap Allah, pengagungan terhadap agama-Nya, dan para rasul-Nya. Sedangkan memperolok-olok itu meniadakan pokok tadi dan benar-benar membatalkannya.” (Taisir Al-Kariim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannaan)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فمن استهزأ بالصلاة – ولو نافلة -، أو بالزكاة، أو الصوم، أو الحج; فهو كافر بإجماع المسلمين،
“Siapa yang memperolok-olok salat-walaupun salat sunah-, zakat, puasa, atau haji, maka ia telah kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
كذلك من استهزأ بالآيات الكونية، بأن قال مثلا:
Demikian pula orang yang memperolok-olok ayat-ayat kauniah (tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta), seperti dengan mengatakan:
إن وجود الحر في أيام الشتاء سفه
“Sebenarnya adanya panas di musim dingin adalah kedunguan.”
أو قال:
Atau dengan berkata:
إن وجود البرد في أيام الصيف سفه;
“Sesungguhnya adanya dingin di musim panas adalah kedunguan.”
فهذا كفر مخرج عن الملة;
Maka yang seperti itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama.
لأن الرب عز وجل كل أفعاله مبنية على الحكمة، وقد لا نستطيع بلوغها
Sebab, seluruh perbuatan Allah itu berdasarkan hikmah, yang kadang tidak sanggup kita ketahui.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
- Taubat diterima dari segala dosa, betapapun besarnya.
Seperti halnya memperolok-olok Allah, ayat-Nya, dan rasul-Nya. Itu adalah dosa yang sangat besar. Tapi, kalau seseorang bertobat kepada Allah dengan tulus dari perbuatan itu, maka Allah akan menerima tobatnya.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
أن المستهزئ بالله تقبل توبته، لكن لا بد من دليل بيّن على صدق توبته; لأن كفره من أشد الكفر، أو هو أشد الكفر، فليس مثل كفر الإعراض أو الجحد.
“Orang yang memperolok-olok Allah diterima tobatnya. Akan tetapi, harus ada bukti jelas yang menunjukkan jujurnya tobatnya. Sebab, kekafiran perbuatan itu termasuk kekafiran yang sangat parah atau paling parah. Tidak serupa dengan kekafiran karena berpaling atau menentang.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Siberut, 19 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Aisar At-Tafaasiir Likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Taisir Al-Kariim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannaan karya Syekh As-Sa’di.
- Tafsir Jalalain karya Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi.






