Sebab Kemuliaan dan Kehinaan Kaum Wanita

Seorang suami baru saja dikaruniai seorang anak. Istrinya baru saja melahirkan seorang bayi. Bayi perempuan yang mungil lagi cantik. Elok rupanya dan  montok badannya. Namun….

Siapa sangka, ia ambil bayinya itu, lalu ia bawa ke suatu lubang, kemudian ia campakkan bayinya ke lubang itu! Ia menguburnya hidup-hidup!

Itulah lembaran hitam nasib kaum wanita di masa jahiliah.

Betapa wanita di masa itu begitu hina, direndahkan dan dilecehkan. Sampai kelahirannya pun tidak diharapkan.

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما berkata:

إِذَا سَرَّكَ أَنْ تَعْلَمَ جَهْلَ العَرَبِ، فَاقْرَأْ مَا فَوْقَ الثَّلاَثِينَ وَمِائَةٍ فِي سُورَةِ الأَنْعَامِ:

“Kalau engkau ingin melihat bagaimana kebodohan bangsa Arab terdahulu, maka bacalah firman Allah Ta’ala di atas ayat 130 surat Al-An’aam:

{قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلاَدَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ}

“Sungguh merugilah mereka yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan.” (HR. Bukhari)

 

Islam Memuliakan Mereka

Setelah dihinakan, direndahkan, dan dilecehkan, datanglah Islam menyelamatkan kaum wanita, mengangkat derajat mereka, dan menempatkan mereka di posisi yang mulia.

Allah menyeru dari atas langit ketujuh, di atas singgasana-Nya yang mulia:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan mereka (para istri) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Dikarenakan posisi mereka begitu berharga dalam Islam, sampai-sampai ada surat dalam Al-Quran yang diberi nama dengan nama mereka, yaitu surat An-Nisa’ (kaum wanita).
Dan dikarenakan kedudukan mereka begitu bernilai dalam agama ini, sampai-sampai seorang ibu ditempatkan dalam posisi yang lebih dihormati daripada seorang ayah.

Datang seorang pria kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”

Beliau ﷺ menjawab:

أُمُّكَ

“Ibumu.”

Ia bertanya lagi:

ثُمَّ مَنْ؟

“Lalu siapa?”

Beliau ﷺ menjawab:

ثُمَّ أُمُّكَ

“Kemudian ibumu.”

Kemudian ia bertanya lagi:

ثُمَّ مَنْ؟

“Lalu siapa?”

Beliau ﷺ menjawab:

ثُمَّ أُمُّكَ

“Kemudian ibumu.”

Kemudian ia bertanya lagi:

ثُمَّ مَنْ؟

“Lalu siapa?”

Barulah beliau ﷺ berkata:

ثُمَّ أَبُوكَ

“Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah kedudukan wanita dalam Islam. Begitu bernilai dan berharga. Demikian luhur dan mulia. Namun sayangnya….

Yang demikian tidak disadari oleh sebagian kaum muslimah di zaman ini.

Sebagian kaum muslimah berusaha meninggalkan posisi mereka yang terhormat.

Di antara mereka ada yang ingin mencopot kemuliaan yang ada pada diri mereka.

Bagaimana bisa? Dengan cara apa?

Dengan tidak mematuhi adab dan aturan dalam Islam yang sebenarnya ditujukan untuk menjaga kehormatan mereka.

Apa contohnya?

Pelanggaran Kaum Wanita

1. Enggan menutup aurat.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan wanita-wanita kaum mukminin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Ayat ini menunjukkan perintah dan kewajiban berjilbab bagi kaum wanita yang sudah balig. Namun….

Tengoklah ke depan kita, belakang kita, atau kiri dan kanan kita, bukankah masih ada wanita yang tidak menjalankan perintah Allah ini?

Bukankah masih kita dapati kaum wanita berjalan di jalan-jalan, dan pasar dalam keadaan tidak mengenakan jilbab? Bukankah mereka mengaku muslimah?

Bahkan yang terjadi lebih parah dari itu. Kita mendapati sebagian kaum wanita berpakaian tapi telanjang. Nabi ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا بَعْدُ

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah kulihat sebelumnya:

قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ

Kaum yang memiliki cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul manusia.

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

Kaum wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok mencari perhatian kaum pria. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga sudah tercium dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.” (HR. Muslim)

Berpakaian tapi telanjang artinya memakai pakaian, tapi dikarenakan pendeknya pakaian mereka, terbukalah aurat mereka.

Atau memakai pakaian, bahkan tertutup aurat mereka, tapi karena ketatnya dan tipisnya pakaian mereka, terlihat lekuk tubuh mereka dan terbentuklah aurat mereka.

Wanita seperti itulah yang dikatakan oleh Nabi ﷺ tidak akan mencium aroma surga. Jangankan memasukinya, mencium aromanya saja tidak!

 

2. Menggunakan minyak wangi yang semerbak aromanya.berlenggak,

Nabi ﷺ bersabda:

ما من امرأة تخرج إلى المسجد تعصف ريحها فيقبل الله منها صلاة حتى ترجع إلى بيتها فتغتسل

“Allah tidak akan menerima salat dari seorang wanita yang keluar ke masjid dengan semerbak minyak wanginya hingga ia kembali ke rumahnya dan mandi.” (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqi)

Dalam hadis ini Nabi ﷺ melarang seorang wanita keluar ke masjid dengan mengenakan minyak wangi. Bukan cuma itu, Nabi ﷺ menyuruh wanita yang sudah terlanjur mengenakannya agar mandi membersihkan dirinya dari itu.

Nah, kalau mengenakan minyak wangi untuk pergi menunaikan ibadah saja terlarang, apalagi kalau mengenakannya untuk selain ibadah?! Tentu lebih terlarang lagi!

Makanya Nabi ﷺ bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهيِ َ زَانِيَةٌ

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian ia melewati satu kaum agar mereka mencium wanginya, maka wanita itu pezina!” (HR Ahmad)

Saudariku, Allah telah mengangkatmu dan memuliakanmu, maka jangan sampai engkau justru merendahkan dan menghinakan dirimu sendiri dengan melanggar tuntunan ilahi!

 

Siberut, 4 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya