Kemuliaan Salim di Mata Penguasa

Kemuliaan Salim di Mata Penguasa

Suatu hari Khalifah Hisyam bin ‘Abdul Malik memasuki Ka’bah dan ternyata di situ sudah ada Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khaththab, ulama besar dari kalangan tabiin.

Lalu Hisyam berkata kepada Salim:

سَلْنِي حَاجَةً

“Mintalah kebutuhanmu kepadaku!”

Salim berkata:

إِنِّي أَسْتَحْيِي مِنَ اللهِ أَنْ أَسْأَلَ فِي بَيْتِهِ غَيْرَهُ

“Aku malu kepada Allah kalau meminta kepada selain-Nya di rumah-Nya.”

Tatkala keduanya sudah keluar dari Ka’bah, Hisyam berkata kepada Salim:

الآنَ فَسَلْنِي حَاجَةً

“Sekarang mintalah kebutuhanmu kepadaku!”

Salim bertanya kepadanya:

مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا، أَمْ مِنْ حَوَائِجِ الآخِرَةِ؟

“Apakah kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?”

Hisyam menjawab:

مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا.

“Kebutuhan dunia.”

Salim pun berkata:

وَاللهِ مَا سَأَلْتُ الدُّنْيَا مَنْ يَمْلِكُهَا، فَكَيْفَ أَسْأَلُهَا مَنْ لاَ يَمْلِكُهَا

“Demi Allah, aku tidak pernah meminta dunia kepada Yang memilikinya. Maka bagaimana mungkin aku memintanya kepada yang tidak memilikinya?!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Demikianlah sikap ulama rabani terhadap para penguasa.

Salim memiliki kedudukan yang mulia di mata para penguasa, tapi ia tidak mau memanfaatkan itu untuk mendulang dunia dari mereka.

Dan Salim juga menaruh hormat kepada mereka, tapi ia tidak sudi menghinakan diri di hadapan mereka.

Kenapa demikian?

Karena….

Setinggi apa pun jabatan mereka, tetap saja itu adalah dunia.

Dan sebanyak apa pun kekayaan mereka, tetap saja itu adalah dunia.

Ya, itu semua dunia. Sedangkan nilai dunia kata Nabi ﷺ:

أَهْوَنُ عَلَى اللهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Lebih rendah di sisi Allah daripada rendahnya bangkai kambing di sisi kalian!” (HR. Muslim)

Karena itu, apakah pantas seorang muslim, apalagi alim, merendahkan diri demi meraih yang rendah?

Imam Ibnu Hibban Al-Busti berkata:

ومن عزت عليه نفسه صغرت الدنيا في عينيه

“Siapa yang berjiwa mulia, niscaya dunia menjadi kecil di kedua matanya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)

 

Siberut, 19 Rabi’ul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya