Siapakah yang disebut orang beriman yang sesungguhnya? Siapakah yang disebut orang beriman yang sebenarnya?
Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuatlah iman mereka dan hanya kepada Tuhan merekalah mereka bertawakal.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
(yaitu) orang-orang yang menegakkan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat tinggi di sisi Tuhan mereka dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 2-4)
Derajat tinggi di sisi Tuhan mereka yaitu derajat di surga
Rezeki yang mulia yaitu:
ما أعد الله في الجنة لهم من مزيد المآكل والمشارب وهنيء العيش
“Apa yang Allah sediakan untuk mereka di surga berupa tambahan makanan, minuman, dan kehidupan yang menyenangkan.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran)
Ibnu ‘Abbas berkata:
الْمُنَافِقُونَ لَا يَدْخُلُ قُلُوبُهُمْ شَيْءٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عِنْدَ أَدَاءِ فَرَائِضِهِ، وَلَا يُؤْمِنُونَ بِشَيْءٍ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، وَلَا يَتَوَكَّلُونَ، وَلَا يُصَلُّونَ إِذَا غَابُوا، وَلَا يُؤَدُّونَ زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، فَأَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُمْ لَيْسُوا بِمُؤْمِنِينَ، ثُمَّ وَصَفَ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ:
“Orangorang munafik itu tidak terbetik di hati mereka sedikit pun ingatan tentang Allah tatkala mengerjakan halhal yang Dia wajibkan. Mereka tidak beriman sedikit pun kepada ayatayat Allah, tidak bertawakal, tidak melaksanakan salat bila sendirian, dan tidak menunaikan zakat dari harta mereka. Maka Allah mengabarkan bahwa mereka bukanlah orangorang yang beriman. Kemudian Allah Swt. menyebutkan sifat orangorang mukmin melalui firmanNya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.”
فَأَدَّوْا فَرَائِضَهُ.
Karena itu mereka pun mengerjakan hal-hal yang Dia wajibkan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Dalam ayat-ayat tadi Allah menyebutkan beberapa sifat mukmin sejati:
- Takut kepada Allah tatkala disebut nama-Nya. Karena itu, ia melakukan apa yang Dia diperintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang.
As-Suddi mengomentari firman-Nya:
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ}
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.”
Ia berkata:
هُوَ الرَّجُلُ يُرِيدُ أَنْ يَظْلِمَ -أَوْ قَالَ: يَهُمُّ بِمَعْصِيَةٍ-فَيُقَالُ لَهُ: اتَّقِ اللَّهَ فَيجل قَلْبُهُ
“Yaitu orang yang bila hendak berbuat aniaya atau bertekad untuk berbuat maksiat, lalu dikatakan kepadanya, ‘Takutlah kepada Allah!’, maka gemetarlah hatinya.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
- Bertambah iman tatkala mendengar ayat-ayat-Nya.
- Berserah diri, bergantung, dan bertawakal hanya kepada-Nya.
- Menegakkan salat, yaitu:
من فرائض ونوافل، بأعمالها الظاهرة والباطنة، كحضور القلب فيها، الذي هو روح الصلاة ولبها
“Salat-salat wajib dan sunah, dengan melakukannya secara lahir maupun batin. Seperti hadirnya hati di dalamnya yang mana itu adalah roh dan inti dari salat.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
- Menginfakkan sebagian dari harta yang dimiliki yaitu:
النفقات الواجبة، كالزكوات، والكفارات، والنفقة على الزوجات والأقارب، وما ملكت أيمانهم،.والمستحبة كالصدقة في جميع جميع طرق الخير.
“Infak yang wajib seperti zakat, kafarat, nafkah untuk istri, kerabat, dan hamba sahaya, dan juga infak yang dianjurkan seperti sedekah dalam semua jalan kebaikan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat tadi:
- Keutamaan takut kepada Allah dan itu adalah sifat orang yang beriman.
- Seorang mukmin, bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah, maka bertambahlah imannya. Sedangkan orang kafir atau munafik, bisa dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah, maka bertambahlah kekafirannya.
Allah berfirman:
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan bila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat itu menambah iman mereka, dan mereka merasa gembira.
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka di samping kekafiran mereka (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124-125)
- Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan.
- Keutamaan bertawakal kepada Allah dan itu adalah sifat orang yang beriman.
- Keutamaan menegakkan salat.
- Keutamaan menunaikan zakat.
- Yang diinginkan oleh Allah dari harta kita bukan seluruhnya, hanya sebagiannya. Sebagaimana firman-Nya: “menginfakkan sebagian dari rezeki.”
- Harta yang ada di tangan kita pada hakikatnya bukanlah milik kita, tapi milik Allah. Sebagaimana firman-Nya: “rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Kekayaan yang kita dapatkan, pada hakikatnya bukanlah karena kekuatan dan kemampuan kita, melainkan semata-mata pemberian dan anugerah dari Tuhan kita.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)
Kalau memang Allah lah yang memberikan semua itu, maka bersyukurlah kepada-Nya dengan mengeluarkan sebagian dari itu. Ya, sebagian. Bukan semuanya.
Keluarkanlah sebagian dari itu untuk menghibur orang-orang yang kekurangan dan membutuhkan itu.
- Orang-orang yang beriman itu tidak satu tingkatan. Ada yang imannya sempurna, pertengahan dan ada yang imannya lemah.
- Surga itu bertingkat-tingkat.
Siberut, 16 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari.
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman karya Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’
- Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir.






