Doa Ketika Terdesak

Perang Uhud menyisakan luka bagi kaum muslimin.

Dalam perang itu, mereka harus mengalami kekalahan dan banyak di antara mereka yang menjadi korban.

Ketika luka tersebut belum sembuh, tiba-tiba seorang musyrik berkata kepada mereka, “Sesungguhnya orang-orang sudah mengumpulkan pasukan untuk menyerang dan menghabisi kalian, karena itu takutlah kalian kepada mereka!”

Maka apa reaksi mereka ketika itu?

Ucapan itu ternyata tidak menggentarkan hati mereka. Bahkan, bertambah kuatlah iman mereka. Mereka mengucapkan:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Penolong kami.”

Allah menceritakan yang demikian dalam kitab-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

” (Yaitu) orang-orang yang ketika ada yang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka!’, ternyata perkataan itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Penolong kami.” (QS. Ali Imran: 173)

 

Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:

 

  1. Di antara makar orang kafir adalah menakut-nakuti kaum muslimin.

 

  1. Keutamaan Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Mereka adalah orang yang tegar dalam memperjuangkan agama Allah, walaupun berbagai rintangan menghadang mereka.

 

  1. Keutamaan kalimat:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Penolong kami.”

Itulah kalimat yang diucapkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya dalam keadaan darurat.

Dan kalimat itu pula yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ﷺ ketika dalam keadaan terdesak.

Nabi Ibrahim ﷺ mengajak kaumnya yang kafir agar mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Namun, bukannya menyambut ajakannya, mereka malah menolak, mendustakannya, bahkan hendak membakarnya!

Namun, bagaimana reaksi Nabi Ibrahim?

Ibnu ‘Abbas berkata:

كَانَ آخِرَ قَوْل إبْراهِيمَ ﷺ حِينَ ألْقِي في النَّار

“Akhir ucapan Ibrahim ﷺ tatkala dilempar ke api adalah:

حسْبي اللَّهُ وَنِعمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah bagiku dan Dialah sebaik-baik penolongku.” (HR. Bukhari)

Beliau tidak berputus asa dan berburuk sangka kepada Allah.

Beliau yakin kalau Allah tidak meninggalkannya dan menelantarkannya. Beliau bertawakal kepada-Nya!

Lantas apa hasilnya?

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman, ‘Hai api! Jadi dinginlah engkau, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’: 69)

Allahu akbar!

Api pun jadi dingin, sehingga tidak terbakarlah beliau dan selamatlah beliau.

Karena itu, siapa yang mengalami masalah yang terasa sangat sulit atau musibah yang benar-benar membelit, maka hendaknya ia mengucapkan kalimat yang diucapkan oleh Nabi kita, dan Nabi Ibrahim dan pengikut mereka tadi.

 

  1. Tawakal adalah salah satu cara paling efektif untuk meraih kebaikan dan menolak keburukan di dunia dan akhirat.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Penolong) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfaal: 64)

Ya, cukuplah Allah menjadi penolongmu wahai Nabi.

Cukuplah Allah menjadi penolongmu wahai orang-orang yang beriman.

Kalian tidak butuh kepada siapapun selain-Nya.

Berharaplah hanya kepada-Nya. Dan bergantunglah hanya kepada-Nya. Niscaya Dia akan mencukupimu.

Allah berfirman:

ومن يتوكل على الله فهو حسبه

“Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dialah yang mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq : 3)

 

  1. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Dan itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

  1. Bisa jadi seseorang membenci sesuatu, padahal itu baik.

Ancaman orang kafir itu kadang terlihat buruk dan mengerikan. Tapi, kalau seseorang menghadapinya dengan sabar, maka ia akan mendapatkan berbagai kebaikan.

Makanya setelah Nabi ﷺ dan para sahabatnya diancam oleh orang musyrik lalu mereka mengucapkan kalimat yang agung tadi, Allah pun menyebutkan:

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali-‘Imran: 174)

Siberut, 17 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Aisar At-Tafasir Likalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.