Tatkala Ahli Bidah Kalah Hujah

Tatkala Ahli Bidah Kalah Hujah

“Apakah engkau yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Itulah yang ditanyakan oleh orang-orang kepada Nabi Ibrahim ﷺ setelah mereka menemukan berhala-berhala mereka dalam keadaan hancur lebur.

Lantas, apa jawaban Nabi Ibrahim ﷺ?

Nabi Ibrahim ﷺ menjawab:

بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

“Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya’: 63)

Tercenganglah mereka mendengar jawaban beliau ﷺ. Lalu mereka pun berkata kepada beliau:

لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلاءِ يَنْطِقُونَ

“Sungguh, engkau pasti tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya’: 65)

Maka Nabi Ibrahim ﷺ pun menyampaikan hujah untuk menyadarkan mereka:

أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Maka mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kalian? Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah! Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-Anbiya’: 66-67)

Hujah yang sangat kuat dan telak. Lalu, apa reaksi mereka?

Allah berfirman:

 قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنتُمْ فَاعِلِينَ

“Mereka berkata, ‘Bakarlah ia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” (QS. Al-Anbiya’: 68)

Imam Ibnu Katsir:

لَمَّا دَحَضت حُجَّتُهُمْ، وَبَانَ عَجْزُهُمْ، وَظَهَرَ الْحَقُّ، وَانْدَفَعَ الْبَاطِلُ، عَدَلُوا إِلَى اسْتِعْمَالِ جَاهِ مُلْكِهِمْ، فَقَالُوا:

“Tatkala runtuh hujah mereka, jelas kelemahan mereka, tampak kebenaran, dan tertolak kebatilan, mereka beralih menggunakan kekuasaan mereka. Mereka berkata:

حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

“Bakarlah ia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak!” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Apa faidah yang bisa kita petik dari semua ini?

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

وهكذا حال أهل البدع وأهل الضلال؛ فإنهم إذا عجزوا عن مناظرة أهل الحق لجأوا إلى القوة

“Demikianlah keadaan ahli bidah dan orang sesat. Jika mereka tidak sanggup adu argumen dengan orang yang memegang kebenaran, maka mereka beralih kepada kekuatan.

فأهل البدع الآن إذا عجزوا عن مقاومة أهل السنة استدعوا السلاطين عليهم

Ahli bidah sekarang ini jika tidak sanggup menghadapi Ahlussunnah, maka mereka akan meminta bantuan pada penguasa untuk menghadapi Ahlussunnah.

كما فعل الجهمية في زمن المأمون؛ فإنهم استعدوا المأمون على أهل السنة لما كانت لهم القوة

Seperti yang dilakukan oleh Jahmiyyah di zaman Al-Ma’mun. Mereka meminta bantuan kepada Al-Ma’mun untuk menghadapi Ahlussunnah tatkala mereka memiliki kekuatan.

وكان أحمد بن أبي دؤاد رئيس المعتزلة هو رئيس القضاة في زمن المأمون فاستعدى المأمون على أهل السنة، وألزموا بالقول بخلق القرآن وسحب الإمام أحمد رحمه الله وضرب في تلك الفتنة

Ahmad bin Abu Duad adalah pemimpin Muktazilah dan ia adalah pemimpin hakim di zaman Al-Ma’mun. Ia meminta bantuan kepada Al-Ma’mun untuk menghadapi Ahlussunnah. Mereka pun dipaksa untuk meyakini bahwa Al-Quran adalah makhluk, sedangkan imam Ahmad diseret dan dipukuli di masa fitnah itu.

وهذه هي طريقة أهل البدع والكفر، فأهل البدع إذا عجزوا عن مناظرة أهل الحق أو عن مجادلتهم لجأوا إلى القوة، واستعدوا السلاطين عليهم، وقالوا:

Itulah cara ahli bidah dan orang kafir. Ahli bidah jika tidak sanggup adu argumen atau berdebat dengan orang-orang yang memegang kebenaran, maka mereka beralih pada kekuatan dan meminta penguasa untuk menghadapi mereka. Mereka berkata:

إن هؤلاء يريدون كذا ويريدون كذا، وهؤلاء يريدون قلب الحكم ويريدون كذا

“Sesungguhnya mereka itu ingin ini dan itu. Mereka ingin membalikkan hukum dan menginginkan demikian dan demikian.”

وهكذا في كل زمان، والتاريخ يعيد نفسه في كل زمان.

Demikianlah dalam setiap masa. Dan sejarah akan mengulangi dirinya dalam setiap masa.” (Syarh Tafsir Ibn Katsir)

Ya, demikianlah kebiasaan orang-orang sesat dalam setiap masa. Selalu serupa dan sama.

Jika mereka tidak sanggup menghadapi argumen Ahlussunnah, maka mereka akan menggunakan cara pengecut dan rendah, yaitu memprovokasi massa atau penguasa untuk menutupi kelemahan mereka.

Maka waspadalah….

 

Siberut, 26 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya