Ketika masih muda, Syekh Muhammad bin Jamil Zainu pernah berguru kepada seorang tokoh tarekat Sufi Syadzaliyyah.
Terjalin hubungan yang dekat antara keduanya.
Suatu hari Syekh Muhammad bin Jamil Zainu, anak beliau, dan teman beliau diundang oleh guru Sufi itu untuk makan malam di tempatnya.
Setelah makan, guru Sufi itu berkata kepada Syekh Muhammad bin Jamil Zainu:
هل تسمع شيئا من الأناشيد الدينية من هؤلاء الشباب؟
“Apakah engkau mau mendengar sedikit nasyid agama dari para pemuda itu?”
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
نعم
“Ya.”
Lalu guru Sufi itu menyuruh para pemuda yang ada di sekitarnya untuk menyanyikan nasyid dengan satu suara yang isinya:
من كان يعبد الله طمعا في جنته, أو خوفا من ناره, فقد عبد الوثن.
“Siapa yang beribadah kepada Allah karena mengharapkan surga-Nya atau takut kepada neraka-Nya, maka sungguh, ia telah menyembah berhala.”
Mendengar itu Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata kepada para pemuda itu:
ذكر الله آية في القرآن يمدح فيها الأنبياء قائلا:
“Allah telah menyebutkan dalam Al-Quran ayat yang memuji para nabi:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)
Lalu guru Sufi itu berkata:
هذه القصيدة التي ينشدونها هي لسيدي عبد الغني النابلسي
“Kasidah yang mereka nyanyikan itu karya Sayidi ‘Abdul Ghani An-Nablisi.”
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
وهل كلام الشيخ مقدم على كلام الله, وهو معارض له؟!
“Apakah ucapan Sayidi itu lebih didahulukan daripada perkataan Allah padahal itu bertentangan dengannya?!”
Salah seorang pemuda berkata:
سيدنا علي رضي الله عنه يقول
“Sayidina ‘Ali berkata:
الذي يعبد الله طمعا في جنته, عبادة التجار
“Yang beribadah kepada Allah karena mengharap surga-Nya itu adalah ibadah para pedagang!”
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
في أي كتاب وجدت هذا القول لسيدنا علي, وهل هو صحيح؟
“Dalam kitab apa aku bisa mendapatkan perkataan sayidina ‘Ali ini? Dan apakah itu sahih?”
Pemuda itu diam.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu lalu berkata kepadanya:
وهل يعقل أن يخالف علي رضي الله عنه القرآن وهو من أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم ومن المبشرين بالجنة؟
“Apakah masuk akal ‘Ali menyalahi Al-Quran sedangkan ia termasuk sahabat Rasul ﷺ dan termasuk orang yang mendapat kabar gembira berupa masuk surga?”
Lalu teman Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata kepada para pemuda itu:
ذكر الله تعالى عن وصف المؤمنين يمدحهم قائلا:
“Allah telah menyebutkan sifat orang-orang yang beriman dalam rangka memuji mereka:
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)
Mereka tidak menerima penjelasan teman Syekh itu.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu tidak mau berdebat dengan mereka dan memilih untuk meninggalkan mereka.
Ketika beliau sudah pergi meninggalkan mereka, salah seorang pemuda yang sebelumnya ikut bernyanyi menyusul Syekh Muhammad bin Jamil Zainu kemudian berkata kepada beliau:
نحن معكم والحق معكم ولكن لا نستطيع أن نتكلم وأن نرد على الشيخ!
“Kami bersama kalian dan kebenaran ada pada kalian. Namun kami tidak sanggup berbicara dan membantah guru kami itu!”
Syekh berkata:
لماذا لا تتكلمون الحق؟
“Kenapa kalian tidak mengucapkan kebenaran?”
Pemuda itu menjawab:
سوف يخرجنا من السكن إن تكلمنا
“Guru kami itu akan mengeluarkan kami dari asrama kami jika kami mengucapkan kebenaran.” (Kaifa Ihtadaitu Ilaa At-Tauhid wa Ash-Shirath Al-Mustaqiim)
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari dialog yang disebutkan Syekh Muhammad bin Jamil Zainu tadi:
- Ibadah kaum Sufi kepada Allah hanyalah berdasar cinta semata, bukan karena mengharap surga-Nya atau takut akan neraka-Nya.
Karena itulah mereka mencela orang yang beribadah kepada Allah karena mengharap surga atau takut neraka. Dan tentu saja itu sikap yang bertentangan dengan keterangan dari Al-Quran, sebagaimana telah disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Jamil Zainu tadi.
- Kaum Sufi sering berdalil dengan riwayat yang tidak jelas asal-usulnya, bahkan palsu. Seperti riwayat dari ‘Ali yang disebutkan oleh pemuda tadi. Tidak jelas asal-usulnya.
Contoh lain riwayat yang tidak jelas asal-usulnya yang dibawakan oleh kaum Sufi yaitu suatu riwayat hadis yang berbunyi:
زِدْنِي فِيك تَحَيُّرًا
“Tambahkanlah kepadaku kebingungan tentang-Mu!”
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
هَذَا الْكَلَامُ الْمَذْكُورُ {زِدْنِي فِيك تَحَيُّرًا} مِنْ الْأَحَادِيثِ الْمَكْذُوبَةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَلَمْ يَرْوِهِ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْحَدِيثِ وَإِنَّمَا يَرْوِيه جَاهِلٌ أَوْ مُلْحِدٌ
“Perkataan yang sudah disebutkan yaitu ‘Tambahkanlah kepadaku kebingungan tentang-Mu!’, ini termasuk hadis dusta atas nama Nabi ﷺ dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun ulama ahli hadis. Yang meriwayatkannya hanyalah orang bodoh atau sesat.” (Majmu’ Al-Fatawa)
- Di antara prinsip kaum Sufi yaitu wajib taklid kepada guru mereka.
Ya, wajib taklid, fanatik dan mengikuti guru mereka, walaupun dalam perkara yang salah. Sebagaimana itu pengakuan pemuda tadi.
Setelah menyebutkan dialog tadi, Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
وهذا مبدأ صوفي عام فإن شيوخ التصوف أوصوا تلاميذهم ألا يعترضوا على الشيخ مهما غلط وقالوا لهم عبارتهم المشهورة:
“Ini adalah ajaran umum kaum Sufi. Karena sesungguhnya syekh-syekh Sufi berwasiat kepada murid-murid mereka agar tidak memprotes seorang syekh pun bagaimana pun kesalahannya. Dan mereka mengucapkan kepada murid-murid mereka ungkapan mereka yang terkenal:
ما أفلح مريد قال لشيخه لم؟
“Tidak akan beruntung murid yang berkata kepada syekhnya, ‘Kenapa?”
متجاهلين قول الرسول صلى الله عليه وسلم:
Mereka pura-pura tidak tahu sabda Rasul ﷺ:
كلّ بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون حسن أخرجه أحمد والترمذي
“Setiap manusia pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertobat.” Hadis ini hasan diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi.
وقول مالك رضي الله عنه:
Dan juga perkataan Malik-semoga Allah meridainya-:
كل واحد يؤخذ من قوله ويرد إلا الرسول صلى الله عليه وسلم.
“Setiap orang bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak, kecuali Rasul ﷺ.” (Kaifa Ihtadaitu Ilaa At-Tauhid wa Ash-Shirath Al-Mustaqiim)
Siberut, 14 Syawwal 1443
Abu Yahya Adiya






