Penyembah Allah: Sekarang jelaslah bahwa perbuatan Anda meminta-minta tolong kepada penghuni kubur adalah kemusyrikan dan kekafiran. Apakah Anda rela menjadi musyrik dan kafir?
Penyembah kubur: Yang Anda katakan memang benar. Saya akui itu, tapi….
Penyembah Allah: Tapi apa?
Penyembah kubur: Bagaimana bisa saya musyrik dan kafir, sedangkan saya masih mengakui kesalahan saya?
Penyembah Allah: Anda kenal Firaun?
Penyembah kubur: Ya, ia musuh Nabi Musa.
Penyembah Allah: Apakah ia kafir?
Penyembah kubur: Tentu saja kafir. Bagaimana mungkin musuh nabi adalah muslim?!
Penyembah Allah: Bukankah Firaun meyakini kebenaran dakwah nabi Musa?
Penyembah kubur: Ya, betul.
Penyembah Allah: Itu menunjukkan bahwa sekadar mengakui keesaan Allah dalam hati, tapi tidak mau mengamalkannya, itu tidak menjadikan seseorang sebagai muslim. Ia masih kafir.
Begitu juga siapa yang mengamalkan tauhid secara lahir, tapi tidak meyakininya dalam hati, maka ia adalah munafik. Ia lebih buruk daripada orang yang kafir tulen!
Penyembah kubur: Saya akui perkataan Anda benar. Namun, saya tidak sanggup melakukannya. Karena, masyarakat saya tidak akan menerima saya.
Penyembah Allah: Menurut Anda apakah kaum Yahudi dan Nashrani itu kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ?
Penyembah kubur: Tentu saja mereka kafir. Mereka tidak mengakui kenabian beliau.
Penyembah Allah: Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 146:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. ”
Ya, seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Artinya sangat paham dan tahu bagaimana kepribadiannya, tapi….
Pengetahuan mereka tidak bermanfaat bagi mereka tatkala mereka tidak mau tunduk dan mempraktekkan apa yang mereka ketahui.
Mereka dianggap kafir tatkala tidak mau mengikuti nabi kita, walaupun mereka mengakui kenabian nabi kita
Banyak di antara mereka yang tidak mau mengikuti nabi kita karena alasan dunia.
Dan memang begitulah keadaan kebanyakan dari mereka.
Allah berfirman:
وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ
“Namun, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya siksa yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat.” (QS. An-Nahl: 106-107)
Mereka mengetahui kebenaran, tapi meninggalkannya karena alasan-alasan duniawi. Maka, tidak bermanfaatlah pengetahuan mereka itu. Mereka tetap dianggap kafir!
Begitu juga dengan Anda. Anda mengetahui kebenaran, tapi meninggalkannya karena alasan duniawi, maka tidak bermanfaatlah pengetahuan Anda itu. Anda tetap dianggap kafir!
Walaupun Anda mengakui keesaan Allah dalam hati Anda, Anda tetap kafir jika tidak
mau mengesakan-Nya dengan perbuatan Anda!
Penyembah kubur: Bagaimana bisa vonis kafir jatuh kepada saya?! Saya kan terpaksa!
Penyembah Allah: Memang siapa yang memaksa Anda?!
Apakah kalau Anda mempraktekkan tauhid dan meninggalkan syirik nyawa Anda terancam?
Penyembah kubur: Tidak.
Penyembah Allah: Kalau begitu alasan Anda tidak bisa diterima!
Kalau Anda melakukan syirik, maka Anda telah membatalkan keislaman Anda dan membuat diri Anda murtad, baik Anda melakukannya dengan serius maupun bercanda, takut maupun gembira, sukarela maupun terpaksa, kecuali….
Kalau pedang sudah menempel di leher Anda, pistol sudah diletakkan di kepala Anda, dan tombak sudah disentuhkan ke leher Anda, maka barulah Anda tidak dianggap murtad dan tidak berdosa.
Anda dimaafkan. Sebab, Anda melakukan itu karena terpaksa demi menyelamatkan nyawa Anda. Namun ingat….
Pemaafan itu ada syaratnya.
Apa itu?
Tetaplah pertahankan keimanan dalam hati Anda!
“Siapa yang kafir kepada Allah setelah ia beriman (maka ia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka ia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106)
Siberut, 16 Rabi’ul Tsani 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber: Kasyf Asy-Syubhat karya Imam Muhammad At-Tamimi.






