Tips Menjadi Kaya dan Mulia

Tips Menjadi Kaya dan Mulia

Cara menjadi kaya dan mulia sebenarnya sederhana. Tak perlu menumpuk harta dan tak perlu juga mengejar jabatan dunia.

Nabi ﷺ memberikan tipsnya:

وَأْيَسْ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ تَكُنْ غَنِيًّا

“Berputus asalah dari apa yang ada di tangan manusia, niscaya engkau kaya.” (HR. Ath-Thabrani)

Ya, berputus asalah dalam memperoleh jabatan dari orang lain.

Berputus asalah dalam mendapatkan kekayaan dari orang lain.

Berputus asalah dalam meraih penghargaan dari orang lain.

Merasa cukuplah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau kaya dan mulia.

Dan itulah yang dikabarkan oleh Jibril kepada nabi kita.

Jibril berkata:

يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin yaitu melaksanakan salat malam dan kemuliaannya yaitu merasa cukup dari orang lain.” (HR. Al-Hakim)

Ya, merasa cukup dari orang lain. Merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, dan merasa tidak membutuhkan apa yang dimiliki orang lain.

Itulah yang membuat seseorang kaya. Itulah yang membuat seseorang mulia.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

وَأَمَّا مَنْ زَهِدَ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ، وَعَفَّ عَنْهُمْ، فَإِنَّهُمْ يُحِبُّونَهُ وَيُكْرِمُونَهُ لِذَلِكَ وَيَسُودُ بِهِ عَلَيْهِمْ،كَمَا قَالَ أَعْرَابِيٌّ لِأَهْلِ الْبَصْرَةِ:

“Adapun orang yang hatinya tidak tertarik kepada apa yang ada di tangan orang-orang dan menahan diri dari mengganggu mereka, maka sesungguhnya karena itu mereka akan mencintai dan memuliakannya. Dan karena itu ia bisa mengendalikan mereka. Sebagaimana perkataan seorang Arab Badui kepada penduduk Bashrah:

مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟

“Siapa pemimpin penduduk daerah ini?”

قَالُوا:

Mereka menjawab:

الْحَسَنُ

“Al-Hasan.”

قَالَ:

Arab Badui bertanya lagi:

بِمَا سَادَهُمْ؟

“Dengan apa ia bisa memimpin mereka?”

قَالُوا:

Mereka menjawab:

احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ

“Orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak membutuhkan dunia mereka!” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)

Itulah keadaan ulama besar kota Bashrah, Al-Hasan Al-Bashri. Ia kaya dan mulia, dalam keadaan “orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak membutuhkan dunia mereka!”

Dan itu pula nasehat yang pernah ia sampaikan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تَعَاطَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ، اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ، وَأَبْغَضُوكَ.

“Orang-orang akan senantiasa memuliakanmu, selama engkau tidak mengambil apa yang ada di tangan mereka. Jika engkau sampai melakukan demikian, maka mereka pun akan menganggap remeh dirimu, tidak menyukai perkataanmu, dan membencimu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)

Ya, selama engkau masih merasa tidak membutuhkan dunia yang ada di tangan orang lain, engkau akan selalu mulia.

Namun, kalau engkau sudah mengharapkan, mengejar, dan meminta apa yang ada di tangan orang lain, maka engkau akan menjadi rendah dan hina.

Makin sering engkau melakukan itu, maka makin rendah dan hinalah dirimu.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَمَتَى احْتَجْتَ إلَيْهِمْ – وَلَوْ فِي شَرْبَةِ مَاءٍ – نَقَصَ قَدْرُكَ عِنْدَهُمْ بِقَدْرِ حَاجَتِكَ إلَيْهِمْ

“Setiap kali engkau membutuhkan orang-orang, walaupun hanya seteguk minuman, maka setiap kali itu juga berkurang kemuliaanmu di sisi mereka, sesuai dengan kadar butuhnya dirimu pada mereka.” (Majmu’ Al-Fatawa)

 

Siberut, 15 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya