Untuk Apa Mengungkit Dosa?

Untuk Apa Mengungkit Dosa?

“Dulu saya pernah berjudi di tempat ini!”

“Dulu saya pernah mencium perempuan itu di situ!”

“Saya sudah bolak-balik penjara karena menghabisi 3 orang!”

Salah satu syarat tobat dikatakan sah yaitu menyesali kesalahan yang telah dilakukan.

Dan termasuk tanda yang menunjukkan bahwa seseorang menyesali kesalahannya adalah ia mengubur kesalahannya dan tidak mengungkitnya.

Karena itu, siapa yang masih mengungkit kesalahannya, dan menceritakannya kepada yang lain, maka ia belum dikatakan bertobat dari kesalahannya itu. Bahkan, Allah tak akan memberinya ampunan atas kesalahannya itu.

Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

“Setiap orang dari umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya.”

Seperti apa bentuk menampakkan perbuatan dosa?

Apakah cuma dengan bermabuk-mabukkan di pinggir jalan?

Apakah cuma dengan berjudi di tempat umum?

Apakah cuma dengan melakukan dosa di tempat terbuka?

Tidak. Bukan cuma itu. Masih ada lagi bentuk menampakkan perbuatan dosa.

Apa itu?

Kelanjutan sabda beliau ﷺ tadi:

وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ

“Di antara bentuk menampakkan perbuatan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan dosa, lalu di pagi harinya–dalam keadaan telah Allah tutupi aibnya-, ia malah bercerita:

يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا

“Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan dosa ini dan itu.”

وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semalaman Allah telah menutupi aibnya, tapi ternyata di pagi harinya ia sendiri yang membongkar aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari Muslim)

Allah telah menutupi aib seseorang, maka bagaimana bisa ia malah membuka dan menampakkannya?!

Bukankah itu menunjukkan bahwa ia tidak menghormati Tuhannya?

Seharusnya, tatkala terjatuh dalam perbuatan dosa, seseorang menutupi aibnya itu dengan rapat, sebagaimana halnya Allah telah menutupi aibnya dengan rapat.

Nabi ﷺ bersabda:

اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَةَ الَّتِي نَهَى اللَّهُ عَنْهَا، فَمَنْ أَلَمَّ، فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Jauhilah dosa-dosa yang telah Allah larang ini. Siapa yang melakukannya, maka hendaknya ia menutupinya sebagaimana Allah telah menutupinya.” (HR. Al-Baihaqi)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ وَنَدِمَ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهَا وَلَا يُخْبِرُ بِهَا أَحَدًا وَيَسْتَتِرَ بِسِتْرِ اللَّهِ

“Dianjurkan bagi orang yang terjatuh ke dalam maksiat dan menyesalinya, agar segera bertaubat darinya dan tidak mengabarkan kepada seorang pun tentang apa yang telah ia lakukan. Hendaknya ia menutupinya sebagaimana Allah telah menutupinya.

وَإِنِ اتَّفَقَ أَنَّهُ يُخْبِرُ أَحَدًا فَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَأْمُرَهُ بِالتَّوْبَةِ وَسَتْرِ ذَلِكَ عَنِ النَّاسِ

Jika ia terlanjur memberitahukan itu kepada seseorang, maka dianjurkan orang itu menyuruhnya bertaubat dan menutupi itu dari manusia.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Maka, dosa apa pun yang telah engkau lakukan, tutuplah itu. Jangan engkau tampakkan aibmu itu kepada siapa pun, sampai kepada orang terdekat denganmu sekalipun!

 

Siberut, 15 Jumada Al-Ulaa 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

http://www.islam-qa.com/ar/ref/83093