Siapa yang tidak kenal dengan Harun Ar-Rasyid?
Ia seorang khalifah yang saleh dan sangat mengagungkan sunnah dan para ulama Ahlussunnah.
Menjelang meninggal dunia, ia meminta kepada keluarganya agar dibawa ke tempat yang akan menjadi kuburnya.
Tatkala sudah sampai ke tempat yang dituju dan melihat langsung kuburnya, apa reaksinya?
Ibrahim bin Al-Mahdi berkata:
ثم شخص ببصره إلى السماء وقال:
“Lalu Harun mengangkat pandangannya ke langit kemudian berdoa:
يا من لا يموت، ارحم من يموت، يا من لا يزول ملكه، ارحم من قد زال ملكه
“Wahai Zat yang tidak akan mati, sayangilah hamba-Mu yang akan mati ini. Wahai Zat yang tidak akan lenyap kekuasaan-Nya, sayangilah hamba-Mu yang telah lenyap kekuasaannya ini.”
ثم بكى بكاء شديدا
Kemudian Harun menangis tersedu-sedu.” (Al-Muntazham fii Tarikhi Al-Muluuk wa Al-Umam)
Kalau khalifah yang saleh seperti ini saja masih menangisi dirinya ketika akan meninggalkan dunia, maka bagaimana pula dengan kita yang penuh dengan dosa?!
Saudaraku….
Sepanjang apa pun hidupmu di dunia ini, tetap saja engkau akan mati.
Seperkasa apa pun engkau sekarang ini, tetap saja engkau tidak bisa menolak mati.
Setinggi apa pun jabatan yang engkau buru, tetap saja itu tak akan menyertaimu ke dalam kuburmu.
Dan sebanyak apa pun kekayaan yang ada pada dirimu, tetap saja itu tidak bisa dibawa ke dalam makammu.
Maka, untuk apa terus menerus bermaksiat? Untuk apa selalu menunda-nunda taubat?
Al-Khalil bin Ahmad berkata:
الناس على ثلاثة أوقات: وقت مضى عنك فلن يعود, ووقت أنت فيه فانظر كيف يخرج عنك, ووقت أنت منتظره وقد لا تبلغ إليه
“Manusia itu menghadapi tiga waktu: waktu yang telah berlalu darimu, maka ia tak akan kembali. Waktu yang engkau jalani sekarang ini, maka perhatikan bagaimana ia berlalu darimu. Dan waktu yang engkau nantikan, bisa jadi engkau tak sempat menjumpainya.” (Thabaqat Al-Hanabilah)
Siberut, 27 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






