Allah Ta’ala berfirman:
أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
“Apakah mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak dapat menciptakan apapun, sedangkan mereka sendiri diciptakan? Mereka tidak dapat memberikan pertolongan kepada manusia, bahkan menolong diri mereka sendiri pun tidak bisa.” (QS. Al-A’raaf: 191-192)
Imam Al-Qurthubi berkata:
(أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئاً) أَيْ أَيَعْبُدُونَ مَا لَا يَقْدِرُ عَلَى خَلْقِ شَيْءٍ
“Apakah mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak dapat menciptakan apapun artinya apakah mereka beribadah kepada sesuatu yang tidak sanggup menciptakan apapun?!” (Al-Jami’ Lii Ahkam Al-Quran)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Beribadah kepada selain Allah adalah syirik.
- Yang berhak disembah dan diibadahi adalah yang bisa mencipta.
Adapun yang tidak bisa mencipta…
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
فَمَنْ لَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ يَكُونُ عَاجِزًا، وَالْعَاجِزُ لَا يَصْلُحُ أَنْ يَكُونَ إِلَهًا.
“Siapa yang tidak sanggup mencipta, berarti lemah. Dan yang lemah tidak pantas disembah.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Dan mereka yang kalian seru selain-Nya tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian; dan kalaupun mereka mendengar, mereka juga tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 13-14)
Maka, ibadah kepada selain Allah adalah batil. Sebab…
- Mereka tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
- Mereka tidak mendengar seruan kalian.
- kalaupun mereka mendengar, mereka juga tidak dapat memperkenankan permintaan kalian.
- mereka akan mengingkari peribadatan kalian.
- Pengakuan terhadap tauhid rububiyah menuntut pengakuan terhadap tauhid uluhiyah.
Kalau seseorang sudah mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta, maka seharusnya ia pun mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang berhak diibadahi dan disembah.
- Disyariatkan meruntuhkan argumen orang-orang musyrik baik dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Adapun terang-terangan seperti debat para nabi dengan kaum mereka seperti yang Allah sebutkan dalam Al-Quran.
Sedangkan sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukan oleh Mu’adz bin ‘Amru dan Mu’adz bin Jabal.
Ketika keduanya masih muda dan telah masuk Islam, mereka berdua merusak berhalaberhala kaum mereka di malam hari.
Mereka memecahkannya dan menjadikannya sebagai kayu bakar untuk orang-orang miskin, agar kaum mereka mau mengambil pelajaran.
Ketika itu ‘Amru bin Al-Jamuh adalah pemimpin kaumnya. Ia mempunyai berhala yang selalu ia sembah dan ia beri wewangian.
Mu’adz bin Amru dan Mu’adz bin Jabal mendatangi berhala itu di malam hari dengan sembunyi-sembunyi. Mereka melumurinya dengan kotoran lalu membalikkan posisi berhala, yaitu kepalanya dijadikan di bawah.
Keesokan harinya, melihat berhalanya dalam keadaan seperti itu, ‘Amru bin Al-Jamuh langsung memandikannya dan memberinya lagi wewangian. Setelah itu ia meletakkan sebilah pedang di sisi berhala itu seraya berkata kepadanya:
انْتَصَرَ
“Belalah dirimu!”
Dan Mu’adz bin ‘Amru dan Mu’adz bin Jabal kembali melakukan hal tadi terhadap berhala tadi keesokan malamnya.
Dan ‘Amru bin Al-Jamuh pun kembali melakukan hal yang sama, yakni membersihkan berhalanya dan memberinya lagi wewangian.
Suatu malam Mu’adz bin Amru dan Mu’adz bin Jabal mengambil berhala itu dan mengikatnya bersama bangkai seekor anjing, lalu menggantungkannya dengan seutas tali di atas sebuah sumur yang ada di tempat itu.
Keesokan harinya, ‘Amru bin Al-Jamuh melihat berhalanya dalam keadaan ‘menderita’, maka ia pun mengucapkan sebuah syair:
تَالله لَوْ كُنتَ إِلَها مُسْتَدن … لَمْ تَكُ والكَلْبُ جَمِيعًا فِي قَرنْ
“Demi Allah, seandainya engkau adalah tuhan yang disembah, niscaya engkau dan anjing tidak akan dikumpulkan bersama-sama!”
Akhirnya ‘Amru bin Al-Jamuh menyadari kesalahannya lalu ia pun masuk Islam. (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
- Beragama itu harus berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu, sangkaan atau ikut-ikutan.
Harus berdasarkan firman Tuhan kita dan sabda nabi kita. Bukan dengan: “Daripada, daripada…,lebih baik, lebih baik….”
Harus berdasarkan petunjuk Tuhan kita dan tuntunan nabi kita. Bukan dengan: “Saya pikir….”, “Saya kira….”, “Saya rasa….”
Harus berdasarkan arahan Tuhan kita dan bimbingan nabi kita. Bukan dengan: “Kalau orang-orang begitu, ya saya pun begitu. Kalau orang-orang tidak begitu, ya saya pun tidak begitu.”
Abdullah bin Mas’ud berkata:
لَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً
“Janganlah salah seorang dari kalian ikut-ikutan.”
Beliau ditanya apa maksud ikut-ikutan?
Ibnu Mas’ud menjawab:
إِنَّمَا أَنَا مَعَ النَّاسِ إِنِ اهْتَدَوُا اهْتَدَيْتُ، وَإِنْ ضَلُّوا ضَلَلْتُ
“Sesungguhnya aku bersama orang-orang. Kalau mereka mengambil petunjuk, maka aku pun mengambil petunjuk. Kalau mereka sesat, maka aku pun sesat.”
Lalu Ibnu Mas’ud berkata:
« أَلَا لَيُوَطِّنُ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ عَلَى إِنْ كَفَرَ النَّاسُ أَنْ لَا يَكْفُرَ»
“Ingatlah, hendaklah salah seorang dari kalian mengokohkan dirinya; jika orang-orang jadi kafir, maka janganlah ia ikut kafir!” (HR. Ath-Thabrani)
Karena itu, wajib bagi seorang muslim mengetahui dan mempelajari agamanya dengan dalil-dalilnya dari Al-Quran dan hadis. Jangan sampai ia beragama berdasarkan hawa nafsu, sangkaan atau ikut-ikutan!
Siberut, 24 Syawwal 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Jami’ Lii Ahkam Al-Quran karya Imam Al-Qurthubi.
- Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ibnu Abil’ Izz Al-Hanafi.
- Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir.






