Istigasah

Istigasah

Abu Bakar resah dan marah. Lalu ia berkata:

قُومُوا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللَّهِ – ﷺ- مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ

“Marilah kita istigasah kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini!”

Karena menganggap tindak-tanduk Abdullah bin Ubay, gembong munafikin sudah keterlaluan, Abu Bakar pun mengucapkan perkataan tadi. Namun apa reaksi Rasulullah ﷺ?

Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، إِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ – عَزَّ وَجَلَّ

“Sesungguhnya, jangan istigasah kepadaku, istigasah itu hanya kepada Allah!”

Imam Al-Haitsami berkata:

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرَ ابْنِ لَهِيعَةَ، وَهُوَ حَسَنُ الْحَدِيثِ.

“Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Dan para perawinya adalah para perawi hadis sahih kecuali Ibnu Lahi’ah, dan ia hadisnya hasan.” (Majma’ Az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid)

Istigasah artinya dijelaskan oleh Syekhul Islam:

طَلَبُ الْغَوْثِ وَهُوَ إزَالَةُ الشِّدَّةِ

“Meminta keselamatan yaitu menghilangkan kesulitan.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Marilah kita istigasah kepada Rasulullah dari orang munafik ini artinya marilah kita minta tolong kepada Rasulullah ﷺ agar menghukum Abdullah bin Ubay dan memberinya ‘pelajaran’ supaya kita selamat dari gangguannya.

Kenapa Rasulullah ﷺ menyatakan: “Jangan istigasah kepadaku, istigasah itu hanya kepada Allah?”

Apakah Rasulullah ﷺ tidak mampu memenuhi permintaan sahabatnya?

Rasulullah ﷺ sebenarnya mampu untuk memenuhi permintaannya. Dan istigasah Abu Bakar kepada beliau dalam hal itu pun sebenarnya diperbolehkan, karena itu masih disanggupi beliau. Namun…

Tatkala kalimat yang ia ucapkan mengandung makna yang kurang beradab kepada Allah, yaitu seakan-akan menyatakan bahwa keselamatan ada di tangan selain-Nya, maka Rasulullah ﷺ pun mengingingkarinya, demi menjaga kemurnian tauhid dan menutup sarana yang akan mengantarkan pada syirik.

 

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Menimbulkan keresahan di tengah-tengah kaum muslimin adalah perbuatan orang-orang munafik.

Siapa yang mau menengok sejarah, niscaya ia akan menemukan fakta bahwa orang munafik dimanapun dan kapan pun selalu merongrong ketentraman kaum muslimin.

Mereka selalu berbuat kerusakan, walaupun mereka berkata:

“Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-Baqarah: 11)

 

  1. Hendaknya seorang muslim selalu menggunakan kalimat yang baik dalam berbicara. Ya, baik dari sisi lafalnya maupun tujuannya.

Baik dari sisi lafal artinya lafalnya bisa dipahami dengan baik oleh orang yang mendengarnya.

Baik dari sisi tujuan artinya tujuannya baik, bukan untuk kejahatan dan keburukan.

Makanya, tidak boleh seseorang mengucapkan kalimat yang lafalnya baik, tapi tujuannya buruk. Dan tidak boleh juga ia mengucapkan kalimat yang tujuannya baik, tapi lafalnya buruk.

Lafal dan tujuannya harus sama-sama baik!

 

  1. Wajibnya menjaga tauhid dan menutup segala sarana yang mengantarkan pada syirik.

Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:

كره ﷺ أن يستعمل هذا اللفظ في حقه، وإن كان مما يقدر عليه في حياته؛ حماية لجناب التوحيد، وسدا لذرائع الشرك، وأدبا وتواضعا لربه، وتحذيرا للأمة من وسائل الشرك في الأقوال والأفعال.

“Rasulullah ﷺ tidak menyukai lafal tadi digunakan untuk beliau, walaupun dalam perkara yang beliau sanggupi di masa hidupnya, karena beliau ingin menjaga kemurnian tauhid, menutup sarana yang mengantarkan pada syirik, berlaku sopan, dan rendah hati kepada Tuhannya serta memperingatkan umatnya dari perkataan maupun perbuatan yang mengantarkan pada syirik.” (Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid)

 

  1. Terlarangnya istigasah kepada orang mati.

 

  1. Terlarangnya istigasah kepada selain Allah dalam perkara yang hanya disanggupi oleh Allah.

Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:

فإذا كان فيما يقدر عليه ﷺ في حياته، فكيف يجوز أن يستغاث به بعد وفاته ويطلب منه أمور لا يقدر عليها إلا الله عز وجل؟

“Jika dalam perkara yang masih beliau ﷺ sanggupi di masa hidupnya saja (beliau tidak membolehkan), maka bagaimana bisa istigasah kepada beliau setelah wafatnya dan dan meminta kepada beliau perkara yang hanya disanggupi oleh Allah?!” (Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid)

Nah, kalau istigasah kepada Rasulullah ﷺ setelah beliau wafat saja tidak diperbolehkan, apalagi kalau istigasah kepada makam para wali!

Dan kalau istigasah kepada Rasulullah ﷺ dalam perkara yang disanggupi beliau saja beliau ingkari, maka apalagi istigasah kepada selain beliau dalam perkara yang hanya disanggupi oleh Allah!

Syekhul Islam berkata:

فمن جعل الملائكة والأنبياء وسائط يدعوهم ويتوكل عليهم ويسألهم جلب المنافع ودفع المضار مثل أن يسألهم غفران الذنب وهداية القلوب وتفريج الكروب وسد الفاقات فهو كافر بإجماع المسلمين

“Siapa yang menjadikan para malaikat, dan para nabi sebagai perantara yang ia seru dan ia jadikan tempat bergantung dan tempat meminta untuk mendapatkan manfaat dan menolak madarat, seperti meminta kepada mereka pengampunan terhadap dosa, petunjuk bagi hati, dan untuk menghilangkan kesusahan, serta menutup kekurangan, maka ia telah kafir menurut kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa)

 

  1. Siapa yang melarang orang lain dari sesuatu yang terlarang, hendaknya menunjukkan kepadanya sesuatu yang diperbolehkan sebagai gantinya.

Jangan sampai ia melarangnya dari sesuatu, lalu membiarkannya kebingungan.

Tengoklah Nabi kita ﷺ. Beliau tidak mencukupkan dengan perkataan: “Jangan istigasah kepadaku” saja, tapi beliau juga memberikan gantinya yaitu: “Istigasah itu hanya kepada Allah.”

 

  1. Kesempurnaan tauhid seseorang menuntutnya untuk menghadap kepada Allah dan bergantung kepada-Nya secara penuh.

Ketika Rasulullah ﷺ dimintai pertolongan oleh Abu Bakar, sebenarnya beliau mampu untuk menolongnya, namun beliau mengarahkannya pada yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu:

“Istigasah itu hanya kepada Allah!”

Artinya, istigasahlah hanya kepada-Nya. Bergantunglah sepenuhnya kepada-Nya.

Dan itu serupa dengan sabda Rasulullah ﷺ:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah! Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah!” (HR. Tirmidzi)

Siberut, 23 Syawwal 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh ‘Abdurahman bin Hasan.
  3. Majmu Al-Fatawa karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.
  4. Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.