Dua perkara berikut ini sangat langka. Bahkan, tidak ada perkara yang lebih langka daripada dua perkara itu menurut Imam Yunus bin ‘Ubaid.
Apa itu?
Imam Yunus bin ‘Ubaid berkata:
لَيْسَ شَيْءٌ أَعَزَّ مِنْ شَيْئَيْنِ: دِرْهَمٍ طَيِّبٍ، وَرَجُلٍ يَعْمَلُ عَلَى سُنَّةٍ.
“Tidak ada sesuatu yang lebih langka daripada: dirham yang baik dan orang yang beramal di atas sunnah.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Inilah dua perkara yang sangat langka menurut Imam Yunus bin ‘Ubaid:
- Dirham yang baik
Ya, tidak ada yang lebih langka daripada penghasilan yang baik menurut beliau.
Bagaimana tidak langka, banyak orang yang sudah tidak menghiraukan lagi sumber penghasilan mereka!
Nabi ﷺ bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي المَرْءُ بِمَا أَخَذَ المَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Sungguh, akan datang kepada umat manusia suatu zaman di mana seseorang tidak menghiraukan lagi harta yang ia dapatkan, apakah itu dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari)
Makin jauh dari masa kenabian, maka makin sedikit orang yang memiliki perhatian terhadap penghasilannya. Maka, langkalah orang yang selalu berusaha mendapatkan penghasilan yang baik dan halal.
- Orang yang beramal di atas sunnah.
Ya, tidak ada yang lebih langka daripada orang yang beramal di atas sunnah.
Bagaimana tidak langka, banyak orang yang lebih menyukai bidah!
Ibnu ‘Abbas berkata:
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلَّا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
“Tidaklah datang tahun yang baru, kecuali orang-orang akan membuat satu bidah dan mematikan satu sunnah, hingga akhirnya hiduplah bidah-bidah dan matilah sunnah-sunnah.” (Al-Mu’jam Al-Kabir)
Makin jauh dari masa kenabian, maka makin sedikit orang yang berpegang teguh pada sunnah, dan makin banyak orang yang mengamalkan bidah. Maka, langkalah orang yang mengikuti sunnah dan menjauhi bidah.
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:
إِذَا بَلَغَكَ عَنْ رَجُلٍ بِالْمَشْرِقِ صَاحِبِ سُنَّةٍ وَآخَرَ بِالْمَغْرِبِ , فَابْعَثْ إِلَيْهِمَا بِالسَّلَامِ وَادْعُ لَهُمَا مَا أَقَلَّ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ
“Jika sampai kepadamu berita bahwa di belahan timur bumi ada seorang pengikut sunnah dan di belahan barat bumi ada seorang pengikut sunnah, maka kirimkanlah salam untuk keduanya dan doakanlah mereka! Alangkah sedikitnya Ahlussunnah wal Jama’ah!” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)
Hari demi hari makin langka orang yang memiliki perhatian terhadap penghasilannya dan berpegang teguh pada sunnah nabinya. Namun, apakah itu kerugian bagi orang yang memiliki sifat demikian?
Tidak!
Karena, Nabi ﷺ telah bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awal datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Siapa orang-orang yang asing itu?
Dalam riwayat lain Nabi ﷺ menyebutkan yaitu:
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي مِنْ بَعْدِي
“Orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak oleh orang-orang sepeninggalku.”
Siberut, 21 Dzulqa’dah 1443
Abu Yahya Adiya






