Suatu hari Khalifah Al-Ma’mun menghadirkan para pedagang perhiasan lalu menawar barang yang mereka miliki. Kemudian ia bangkit untuk suatu keperluan. Maka, berdirilah seluruh orang yang ada di tempat tersebut untuknya kecuali ‘Ali bin Al-Ja’d.
Al-Ma’mun pun memandang kepadanya dengan pandangan marah. Lalu ia meminta berbicara berdua dengan ‘Ali bin Al-Ja’d.
Al-Ma’mun bertanya:
يَا شَيْخُ، مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُوْمَ؟
“Wahai Syekh, apa yang menghalangimu untuk berdiri?”
‘Ali bin Al-Ja’d menjawab:
أَجلَلْتُ أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ لِلْحَدِيْثِ الَّذِي نَأْثُرُهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
“Aku menghormati Amirulmukminin karena hadis yang kuriwayatkan dari Nabi ﷺ.”
Al-Ma’mun bertanya:
وَمَا هُوَ؟
“Hadis apa itu?”
‘Ali menjawab:
سَمِعْتُ مُبَارَكَ بنَ فَضَالَةَ، سَمِعْتُ الحَسَنَ يَقُوْلُ:
“Aku mendengar Mubarak bin Fadhalah berkata bahwa ia mendengar Al-Hasan berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ:
“Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَاماً، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Siapa yang suka orang lain berdiri untuknya, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka!”
Al-Ma’mun pun menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya kemudian berkata:
لاَ يُشتَرَى إِلاَّ مِنْ هَذَا.
“Tidak ada yang pantas dibeli kecuali dari orang ini!”
Lalu orang-orang pun membeli darinya seharga 30.000 Dinar pada hari itu.
Kisah tersebut disebutkan dalam Siyar A‘lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi.
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tersebut?
- Disyariatkan amar makruf nahi mungkar di hadapan siapa pun termasuk penguasa.
Seperti yang dilakukan oleh ‘Ali bin Al-Ja’d tadi. Perbuatannya itu termasuk bagian dari amar makruf nahi mungkar di hadapan penguasa. Dan itu merupakan amalan yang sangat mulia.
Nabi ﷺ pernah ditanya:
أَيُّ الْجِهادِ أَفْضَلُ
“Jihad apakah yang paling utama?”
Beliau ﷺ bersabda:
كَلِمَةُ حقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جائِر
“Perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. An-Nasai)
Dan Al-Ma’mun terkenal sebagai penguasa yang zalim.
- Siapa yang berani menyatakan prinsipnya, maka ia lebih disegani oleh orang lain dibandingkan orang yang ‘malu-malu’ menyatakan prinsipnya.
Seperti yang dilakukan oleh ‘Ali bin Al-Ja’d tadi. Tatkala ia berani menyatakan prinsipnya, maka Al-Ma’mun pun segan kepadanya dan menghormatinya.
Adapun orang yang ‘malu-malu’ menampakkan prinsipnya, atau bahkan tidak punya prinsip sama sekali, melainkan hanya ‘mengikuti arus’ atau bermuka dua demi mendapatkan keuntungan pribadi, maka orang yang seperti itu tidak akan dihormati dan disegani.
- Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia memberinya jalan keluar dari permasalahan yang ia hadapi.
Seperti yang dilakukan oleh ‘Ali bin Al-Ja’d tadi. Tatkala ia enggan melanggar hadis Nabi ﷺ yang telah ia ketahui, bukannya mendapatkan hukuman, ia malah dihargai dan mendapat rezeki.
Siberut, 28 Dzulqa’dah 1443
Abu Yahya Adiya






