Pembagian yang Menuai Kecaman

Pembagian yang Menuai Kecaman

“Kami lebih berhak atas emas tersebut daripada orang-orang itu.”

Itulah yang dikatakan oleh seseorang tatkala menyaksikan Rasulullah ﷺ membagikan sekantong emas mentah hanya kepada empat orang, yaitu ‘Uyainah bin Badr, Aqra bin Habis, Zaid Al Khail, dan yang keempat adalah ‘Alqamah atau ‘Amir bin Thufail.

Ucapan itu sampai ke Rasulullah ﷺ, maka beliau ﷺ pun bersabda:

أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ، يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Apakah kalian tidak percayai kepadaku padahal aku dipercaya oleh Yang di atas langit? Datang kepadaku kabar dari langit, di pagi dan sore hari!”

Tiba-tiba datang seorang pria yang bermata cekung, bertulang pipi cembung, berdahi menonjol, dan berkepala gundul. Ia lalu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ اتَّقِ اللَّهَ،

“Ya Rasulullah! Bertakwalah engkau kepada Allah!”

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَيْلَكَ، أَوَلَسْتُ أَحَقَّ أَهْلِ الأَرْضِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ

“Celakalah engkau! Bukankah aku orang di muka bumi yang paling takut kepada Allah?!”

Lalu orang itu beranjak pergi. Maka Khalid bin Walid berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلاَ أَضْرِبُ عُنُقَهُ؟

“Ya Rasulullah, apakah aku tebas saja lehernya?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ يُصَلِّي

“Jangan, bisa jadi ia masih mengerjakan salat.”

Khalid berkata:

وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ

“Berapa banyak orang yang melaksanakan salat mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak sesuai dengan hatinya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ

“Aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati seseorang atau mengetahui isi perutnya!”

Ketika orang itu sudah menjauh, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ رَطْبًا، لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan muncul suatu kaum yang banyak membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka hanya sampai tenggorokan mereka. Mereka lepas dari agama sebagaimana lepasnya anak panah dari buruannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa:

  1. Hendaknya seorang muslim mendahulukan prasangka yang baik daripada prasangka yang buruk kepada saudaranya seiman, apalagi kalau saudaranya itu adalah orang yang saleh.

Prasangka buruk itu bisa berakibat buruk.

Lihatlah apa yang terjadi pada orang yang disebutkan dalam hadis tadi. Karena prasangkanya yang buruk kepada Rasulullah ﷺ ia sampai menganggap beliau ﷺ telah bersalah dan tidak bertakwa kepada Allah.

Padahal, Rasulullah ﷺ membagi emas kepada 4 orang itu, karena mereka adalah mualaf. Sedangkan mualaf berhak mendapatkan pembagian zakat.

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ menyebutkan alasan beliau membagikan emas kepada 4 orang itu:

إِنَّمَا أَتَأَلَّفُهُمْ

“Sesungguhnya aku melakukan itu untuk menarik hati mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Seorang yang mengajak kepada kebenaran harus siap menghadapi celaan dan kecaman dari orang yang menentangnya. Sebagaimana yang terjadi pada Rasulullah ﷺ. Beliau harus menerima celaan dari orang yang menentang keputusan beliau ﷺ.

 

Siberut, 11 Jumada Al-Ulaa 1443

Abu Yahya Adiya