Milyaran rupiah sudah ia gelontorkan, tapi gagal juga menempatkannya pada posisi yang ia idam-idamkan. Akhirnya…
Ia keluar dari rumahnya dengan tanpa memakai busana sama sekali! Setiap orang yang ia temui di jalan-jalan, ia maki-maki!
Itulah nasib tragis yang menimpa seorang yang mengalami kegagalan dalam pilkada di suatu daerah beberapa tahun lalu.
Kenapa keadaannya bisa tragis seperti itu?
Di tempat lain, seorang santri terlihat begitu cerdas dan rajin. Bukti kecerdasan dan kerajinannya, ia bisa menghafal puluhan hadis dalam semalam! Tapi, siapa sangka, di kemudian hari ia gila! Ya, gila!
Kenapa keadaannya bisa tragis seperti itu?
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu berdasarkan niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Sesungguhnya amalan itu berdasarkan niat” artinya setiap amalan pasti ada niatnya.
Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang, selama ia berakal dan tidak dipaksa, pasti ada niatnya. Berbeda halnya dengan orang gila, orang mabuk atau terpaksa.
Ketika melakukan suatu perbuatan, orang gila atau mabuk, melakukannya tanpa disengaja dan tanpa memiliki niat untuk melakukannya.
Begitu juga seseorang yang dipaksa. Ia melakukan suatu perbuatan, tapi belum tentu melakukannya karena sengaja atau memiliki niat untuk melakukannya.
Berarti, selama seseorang waras dan sadar, pasti ia mempunyai niat tertentu ketika melakukan sesuatu perbuatan.
“Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. ”
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menjelaskan makna perkataan Nabi ﷺ ini:
فكل امريء له ما نوي: إن نوي الله والدار الآخر في أعماله الشرعية، حصل له ذلك، وإن نوي الدنيا، قد تحصل وقد لا تحصل.
“Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Jika ia mengharapkan Allah dan untuk meraih negeri akhirat dalam segala perbuatannya yang sesuai dengan syariat, maka pasti ia akan mendapatkan apa yang ia harapkan. Akan tetapi, kalau ia mengharapkan dunia, maka bisa jadi ia mendapatkannya dan bisa jadi tidak mendapatkannya.” (Syarh Riyadhus Shalihin)
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ
“Siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki.” (QS. Al-Isra’: 18)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ما قال: عجلنا له ما يريد؛ بل قال: (عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ) ، لا ما يشاء هو؛ (لِمَنْ نُرِيدُ) لا لكل إنسان….فمن الناس: من يعطي ما يريد من الدنيان ومنهم: من يعطي شيئاً منه، ومنهم: من لا يعطي شيئاً أبدا.
“Allah tidak berfirman: ‘Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang ia inginkan’, melainkan Dia berfirman: ‘Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki.’ Bukan apa yang ia hendaki. Dan itu juga ‘bagi siapa yang Kami Kehendaki’ bukan bagi semua manusia…Makanya, di antara manusia ada orang yang diberi dunia sesuai dengan yang ia inginkan. Ada lagi yang diberi sedikit dari yang ia inginkan dan ada pula yang tidak diberi sama sekali dunia seperti yang ia inginkan.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Itulah makna firman-Nya: “maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki.”
Itu kalau tujuannya dunia. Adapun kalau tujuannya akhirat, Allah berfirman:
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوراً
“Dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usaha mereka dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 19)
Kalau begitu, orang yang melakukan kebajikan dan kebaikan dengan niat meraih pahala akhirat, pasti ia akan mendapatkan apa yang ia niatkan.
Sedangkan orang yang melakukan kebaikan dan kebajikan dengan niat mendapatkan dunia, maka mungkin saja ia mendapatkan apa yang ia niatkan secara sempurna, dan mungkin saja separuhnya, dan mungkin saja tidak mendapatkannya sama sekali, sehingga akhirnya kecewa, bahkan gila!
Siberut, 17 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






